Showing posts with label Intermezzo. Show all posts
Showing posts with label Intermezzo. Show all posts

Saturday, September 1, 2012

Papaku Hebat, Papaku Nekat

Barusan, Papa ujug-ujug ngajak ngobrol. Kegiatan ini mungkin jarang banget dilakukan waktu saya masih di Bandung. Sambil nemenin makan siang, doi tiba-tiba ngebahas cerita tentang asal mula doi bisa bawa mobil. Aneh juga ya tema obrolannya, apa ini pertanda doi mau kasih saya mobil? #ngarep.

Jadi ceritanya, dulu waktu muda, doi sangat dilarang untuk belajar mobil, padahal pengen banget! Kebetulan, yang punya mobil saat itu cuma kakak satu-satunya Papa karena beliau punya usaha car-rent, sedangkan Bapak (kakek) cuma punya motor bebek.

Karena Papa orangnya nekat, doi bela-belain belajar mobil sembunyi-sembunyi ke pegawai kakaknya. Adaaa aja cara yang doi lakuin demi bisa ngendarain mobil dan membawanya buat ngapelin pacar.

Sampai suatu hari, kakak dan suaminya mau pergi ke luar kota. Kunci rumah di titip di Bapak. Di hari itu juga, diam-diam Papa langsung ngambil kunci rumah kakaknya terus masuk rumah sampai akhirnya berhasil bawa keluar mobil milik kakaknya. Mirip-mirip kayak pencurian deh. Eeergghh -____-

Walaupun masih belum begitu lancar, tetap dengan nekatnya doi bawa mobil itu buat ngapelin sang pacar.

Di waktu yang sama, kakak Papa dan suaminya ngebatalin rencana keluar kota karena saat itu lalin lagi macet banget. Alhasil balik lagi ke rumah.

Jeng jeng... Surprise dong lihat mobil ngga ada di garasi! Langsung saat itu juga mereka lapor ke Polsek sampai tembus ke Polres.

Ade, temen Papa yang denger berita kehilangan tersebut dan tahu keberadaan mobil itu ada dimana, langsung lapor ke Bapak. Saat itu juga, sambil nahan marah Bapak nyuruh Ade untuk nyusulin Papa.

Sampai di rumah pacar Papa, tanpa babibu Ade ngomong: `Ded, lu dicari polisi!`

Semua kaget. Tanpa babibu juga si pacar langsung mutusin Papa, karena mungkin nyangka pacarnya ini buronan. Sial.

Anehnya, sepanjang perjalanan pulang, doi jadi lancar ngendarain mobil. Ngga kagok lagi. Tapiiiii, nasib doi dirumah tentu ngga selancar perjalanan pulangnya. Doi mesti ngadepin omelan Bapak yang terkenal galak, kakak dan kakak iparnya, serta ngadepin Om-Om Police untuk mencabut laporan. Ckckckkkk...

Dan di akhir obrolan, doi nanya: `mau belajar motor ngga?`

Saya jawab tidak. Doi nanya lagi: `kalau mobil?`

`mau dooong...`

Cuma di balas `hahaaaa...` doang. Artinya???

Thursday, June 14, 2012

Mental-less

......

X : Hey, lu jualan 'mental' nggak?
Y : 'mental' kok di beli sih.
X : 'mental' gue sekarat! Pengen di charge nihbisa nggak?
Y : Sarap!

......

Wednesday, June 13, 2012

Curhat-ing



Now I'm realizing that have a 'MEGA' job with good salary within it is not as good as I thought. I'm not sure, it can be fixed even I have a power to divide my body.
Huuuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaaaa :'(
And if it still continues till the end of this month, I'd be better to ngasuh-orok-manusia deh!

Thursday, June 7, 2012

Menunggu Kabar Bersama Layang-Layang

Sepulang bekerja, saya berbelok mampir menuju taman kecil yang tidak jauh dari tempat tinggal. Entah kenapa, langkah-langkah kaki seolah sudah tersetting secara otomatis agar tidak lekas menuju jalan pulang. Mungkin karena daya tarik taman di sore itu begitu kentara. Seolah bermedan magnet yang menarik saya untuk sekedar duduk-duduk santai sambil menikmati senja.

Saya lantas duduk di kursi tembok yang penuh coretan anak manusia yang dimabuk cinta. Mungkin dalam prinsip mereka, kurang afdol kalau belum menorehkan prasasti cinta di tempat-tempat umum. Seperti di kursi yang saya duduki ini, ada tulisan 'Aa sayang Neng'. Lucu.

15 menit berada di taman itu, lembayung yang ditunggu tak kunjung datang, apalagi mengharap kedatangan sebuah kabar yang sejak dua minggu lalu saya tunggu. Saya bisa menafsirkan alasan lembayung yang tidak hadir sore ini, mungkin bisa saja karena dominasi dari awan-awan mendung. Tapi kalau soal kabar yang saya tunggu, saya tidak tahu alasan apa yang mewakili ketidakhadirannya.

Seolah ada yang mengerti pikiran saya, Abang Pengamen berkaos hitam tiba-tiba menghampiri dan mendendangkan lagu Right Here Waiting-nya Richard Marx. Ah sial! Kadang alam selalu mengikuti perasaan makhluknya.

Bergegas saya keluarkan recehan lima ratus rupiah agar Si Abang Pengamen itu lekas pergi. Tidak lama kemudian, ada lagi yang menghampiri. Kali ini seorang adik kecil dengan tentengan layang-layang di tangannya.

"Kak, mau bantuin nerbangin layangan saya nggak?" sahutnya to the point.

"Nama kamu siapa? Kok main layangan sendirian sih?" tanya saya.

"Agus. Temen saya lagi sakit, Kak. Kakak mau ya nerbangin layangan saya?" tanya Agus kedua kalinya. Kali ini lebih memaksa.

"Sini." Saya meraih layang-layang putih bergaris biru tersebut. Kalau sebatas menerbangkan layang-layang, saya masih bisa. Tapi kalau diminta untuk memainkannya, itu bukan kapasitas saya.

Saya mengambil jarak beberapa meter di depan Agus. Agus terus mengulurkan benang layangan sambil mengarahkan jarak pada saya. Dalam hitungan ketiga, kami coba menerbangkan layang-layang. Tapi percobaan kami yang pertama gagal. Kata Agus, anginnya sedang tidak tepat. Kemudian kami mencoba lagi, tetapi tetap gagal. Akhirnya di percobaan ketiga, layang-layang berhasil diterbangkan.

Dengan tangannya yang kurus, Agus menarik ulur benang agar layang-layangnya tetap jumawa di angkasa.

"Kamu sering main layangan ya, Gus?"

"Iya, Kak. Saya seringnya main disini, nggak apa-apa jauh dari rumah juga, yang penting bisa main layangan." jawab Agus sambil tetap menarik ulur benang layang-layangnya.

"Emang kenapa kalau dirumah kamu?" tanya saya penasaran.

"Di daerah rumah saya banyak kabel listrik, jadi ngehalangin layang-layangnya, Kak."

"Oh." Kasihan Si Agus, batin saya. Andai semua kabel-kabel listrik di negara ini bisa ditanam di tanah, mungkin Si Agus bisa  bebas bermain layang-layang tanpa gangguan kabel-kabel tersebut. "Apa yang kamu suka dari layang-layang, Gus?"

"Kata Bapak, main layang-layang itu sama kayak belajar sabar, Kak. Nih tarik ulur begini juga harus tepat," Agus menunjuk benang layang-layangnya. "Agus mesti nahan diri lho nunggu anginnya yang pas. Tarik lagi, ulur lagi, tarik lagi, ulur lagi. Kalau layangan udah di atas, tapi Agusnya nggak bener pasti turun lagi. Soalnya anginnya bisa aja berubah-rubah...."

Disaat Agus terus nyerocos panjang lebar menjelaskan perkara layang-layang, saya seolah tersadar mendengar kata 'menunggu, menahan diri dan sabar' dari pernyataan Agus tadi. Bahwa aktivitas menunggu yang saya lakukan sama halnya dengan yang dilakukan Agus saat bermain layang-layang. Agus harus mau menahan diri menunggu datangnya hembusan angin yang tepat untuk menerbangkan layang-layangnya. Begitu juga dengan saya, harus belajar menahan diri menunggu waktu yang tepat untuk kedatangan sebuah kabar itu. Mungkin juga, besar kecilnya hembusan angin bisa diibaratkan sebagai rintangan yang dihadapi. Tergantung seberapa kuat kendali kita terhadap hembusan angin tersebut.

"....Agus punya banyak koleksi layangan buatan Agus sendiri lho, Kak. Kalau mau, Kakak boleh ambil satu."

"Besok-besok, ajarin saya main layang-layang ya. Bukan cuma membantu menerbangkan, tapi belajar tarik ulur sambil merasakan hembusan anginnya." pinta saya.

"Siap! Tiap sore Agus selalu main layangan disini. Jadi Kakak tinggal datang kesini aja." sahut Agus sambil tersenyum lebar. "Oke deh!" jawab saya sambil balas tersenyum seraya mengelus-ngelus rambut Agus yang sedikit pirang kepanasan.

Saya pamit pulang duluan ke Agus, sambil mengingatkan Agus agar lekas pulang juga.


Di langkah ke dua puluh menjauhi Agus, saya membalikkan badan. Kembali memandangi Agus dari jauh yang semakin menikmati kegiatan tarik-ulurnya. Saat melihatnya menerbangkan layang-layang dengan kepala tegak dan bukan menunduk, saya kembali tersadar bahwa bermain layang-layang adalah sebuah tanda agar saya harus optimis, semangat serta tidak berhenti berharap dalam hidup.

"Teruslah terbangkan layang-layangmu, Gus. Lakukan hal yang sama pula pada impianmu, begitu juga yang saya lakukan pada impian saya. Tataplah angkasa dan kelak biarkan langit yang menjadi batasnya." ^^

NB: Kabar baik itu selalu akan datang. SEGERA :)

Tuesday, May 22, 2012

Me and Fear

What  I should to do with fear is meet it. Then when I meet fear, I just say:
"Okay, fear, I just want you to know that I know you’re there. I see you, I hear you and I feel you. And even though I hate it when you show up, and part of me wishes I could just kick you to the curb, I know that this is temporary and that you’re here for a reason. Thank you."

Believe It !

Me: I can deal with it, rite?
Me: YES, you can! You're ok, you're alright, you're SUPER, Yas !

Tuesday, May 15, 2012

My Lil' Monsters



My Lil' Monsters, oneday you'll grow more and more.
I promise to build a home library for you, Dear :)
(Buku/Novel yang dibeli dari hasil keringat mengasong sana-sini, hehe)

Saturday, April 7, 2012

Tanda-Tanda Kiamatkah?

Pernah satu waktu, saya lagi nonton tipi. Saya lihat tayangan Reality Show, dimana teman SMA saya --model dalam acara tersebut-- ikut menjalani kehidupan kalangan-kalangan tidak mampu. Dalam tayangan itu, si teman yang dulunya cuek dan nggak mau ikutan baksos-baksos sekolah, ternyata mau ikut kehidupan yang 'nggak dia banget' dan bisa nangis bombay. Sebenarnya sangsi juga lihat dia begitu. Mungkin bisa aja karena skrip atau mungkin juga memang dia beneran sudah berubah. Dunno. Habisnya, ada scene yang sebenarnya nggak sedih dan nggak harus ditangisin tapi malah dibikin dramatisir. Kok kesannya gue malah sirik gini, ya?

Maksudnya gini lho. Bukan masalah si modelnya sih, tapi justru tayangannya.

Jujur, saya nggak suka sama acara yang menguak kesengsaraan-kesengsaraan orang-orang. Nggak tega lihatnya! Sudah jelas dia sengsara, sudah jelas hidupnya melarat, tapi malah dibesar-besarkan dengan kesedihan-kesedihan. Atau dulu ada acara tentang perbaikan rumah. Sudah jelas rumahnya jelek, eh diacak-acakin deh isi rumahnya, biar terkesan 'udah jelek, berantakan lagi'. Terus si empunya rumah, diajak nginep di hotel mewah, biar semakin kelihatan kampungan!

Ironisnya, banyak penonton-penonton tipi justru senang disuguhin acara begitu. Hanya bersimpati tanpa berempati. Disatu sisi mungkin niatnya baik,biar para penonton terketuk hatinya untuk membantu. Tapi kalau malah jadi eksploitasi kesengsaraan orang lain demi kepentingan komersil, miris juga kan?

Gambar copas dari Pesbuk Om Mice Carton

Lihat deh tayangan musik sekarang. Sudah mah musiknya begitu-begitu aja, ditambah host yang banyak ngelawak tapi nggak lucu sama sekali. Plus bonus alay-alay dengan joget 'cuci-jemur'nya. Kadang saya heran deh, mereka nggak sekolah atau kerja ya? Tiap pagi kok doyan banget nangkring di acara-acara musik dan orangnya itu-itu lagi. Untungnya, nggak semua channel nampilin tayangan musik begitu, masih ada kok yang menyuguhkan tayangan musik berkualitas. Thx God!

Jangan tanya soal sinetron deh. Sejauh yang saya ingat, sinetron yang paling bagus itu Si Doel Anak Sekolahan. Selain ceritanya bagus, sinematografinya juga oke. Kalau sinetron sekarang kan, pemeran utamanya tiap episode cuma tangis terus. Jangan-jangan kualifikasi untuk casting sinetron sekarang adalah; bisa nangis dan punya banyak stok air mata.

Pernah sekali-kalinya saya lihat sinetron remaja yang tayang jam 19.30 WIB dan nggak mau-mau lagi. Ada satu artikel yang membahas tentang sinetron itu;

"...Konflik remaja yang di tawarkan ternyata mampu memikat banyak penonton muda maupun dewasa. Pada Minggu kemarin, **** mampu menduduki tahta juara dengan dengan TVR 4.4 dan share 16.1%..."

Masa sinetron yang nampilin anak-anak SMA dengan seragam minim, bahasa nggak baik, dan perilaku nggak pantes dicontoh, bisa dapat rating tinggi sih?! Waduh, tanda-tanda kiamat ini mah!

NB: Curhatan ini muncul setelah saya nonton si teman SMA, baca Komik Opininya Bang Aji Prasetyo (di Bab III ada komik yang berjudul 'Sekolah Bangsa Itu Bernama Media'), nonton sinetron remaja itu, dan baca Mice Cartoon Online.

Tuesday, January 3, 2012

Tak Sengaja Mengobservasi

Seperti masuk ke dalam adegan FTV, menyaksikan pasangan muda yang lagi ngambek di McDonalds Gatot Subroto pagi tadi. Masing-masing diam dan menyibukkan diri dengan gadget ditangan. Tapi mimik wajah tak dapat menyembunyikan kemarahan diantara mereka, Si Cewek cemberut dan Si Cowok pun mengeluarkan ekspresi yang sama. Lama terdiam, mereka mulai membuka suara. Lalu Si Cewek berdiri hendak beranjak pergi, tapi geraknya yang pelan dan ogah-ogahan seolah-olah mengharapkan tangan Si Cowok menahannya dan memintanya untuk tetap tinggal.

Ah, percintaan anak muda memang unik ya, batin saya dalam hati sambil tersenyum karena tak sengaja mengobservasi mereka dari jarak kurang lebih 3 meter, sama seperti yang dilakukan 2 waiter McD lainnya. Hehehe...

Mas, Mbak, maaf ya fotonya saya pajang disini...

Tuesday, November 15, 2011

Pertanyaan Pagi

Sebenarnya, kita itu hidup dimana?
Hidup di dunia palsu yang dianggap nyata atau hidup di dunia nyata yang banyak kepalsuan?

Wednesday, November 9, 2011

Empat Hal Saja

Pertama, anda seorang Jawa. Saya mengenalnya dari kata Jawa yang melekat pada nama Anda. Seperti saya mengenal kata 'ningtyas' pada nama saya.

Kedua, saya menyukai lelaki Jawa. Karena lelaki Jawa itu tegas dan apa adanya (setidaknya itu yang saya pikirkan), seperti saya menyukai lelaki Jawa lainnya, Eross Chandra dan Satriyo Yudi Wahono atau Piyu.

Ketiga, saya mengagumi tulisan tangan anda. Sederhana namun sarat makna, yang secara diam-diam pernah saya baca.

Malangnya, hal keempat adalah Tuhan belum mengijinkan kita untuk berjumpa. Rasanya seperti ingin tapi tidak ingin. Ah biarlah. Toh, saat ini saya betah dengan aktivitas yang saya beri nama: 'diam-diam menikmatimu lewat tulisan'

Wednesday, October 26, 2011

Pagi di 27 Oktober 2011

---------------------------------------------------
Dan kekaguman itu datang bukan saja lewat moment tatap muka dan obrolan hangat, tapi melalui sebuah gambar bergerak dan tulisan tangan.
Besar harapan yang disisakan oleh kekaguman itu:
andai suatu saat nanti Tuhan mengijinkan kita untuk -tidak hanya sekedar- bertemu, tetapi juga berbincang dan berkarya. Amin.

(sebuah pagi, yang mempertemukan kita dalam ruang dunia maya)
----------------------------------------------------

Sunday, October 2, 2011

Si Ojan (datang lagi)

Ini pertama kalinya saya kembali bercerita tentang keanehan eh kelucuan Si Ojan -sepupu saya yang paling kecil- Saya juga lupa, kapan terakhir kali saya mendeskripsikan apa yang dialami Ojan melalui kata-kata. Hmmm, mungkin waktu masih di blog yang lama.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Ketika itu, Ojan pulang kerumah sambil menangis. Bukan karena jatuh dan terluka, atau karena rebutan bola dengan temannya, tapi...

Ojan: Mamaaa... dede nggak mau masuk neraka....
Ibu Ojan: Kenapa gitu, de?
Ojan: Kiamat teh apa, Ma? Surga teh apa?

Berani taruhan deh, emaknya Ojan pasti bingung gimana ngejelasin konsep kiamat dan surga sama si kunyit berumur 8 tahun yang masih ngempeng kalau mau bobo.

Ibu Ojan: Tahu dari mana de?
Ojan: ..... Surga teh apa, Ma?
Ibu Ojan: Hmmm.. surga itu tempat orang baik yang udah meninggal. Kalau dedenya baik, nurut sama Mama, nurut sama Papa, nggak ngomong kasar, nanti masuk surga.
Ojan: Nanti ada Aa, Mama sama Papa disurga?
Ibu Ojan: Ada.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Setelah kejadian itu, Ojan jadi makin nurut dan jarang ngomong kasar lagi lho pemirsa... Alhamdu...lillah. Be a good boy ya sayang :)

Monday, June 6, 2011

Thursday, June 2, 2011

When gosip-ing begin, I remember about...

Pagi itu, dapur rumah tiba-tiba ramai. Ibu, dengan keahlian multitasking-nya, menyiapkan sarapan sambil mulutnya asik gosip-ing dengan tante saya. Saya yang masih setengah sadar dari tidur, belum ngeh dengan apa yang mereka gosipkan.

Lama-kelamaan, saya mulai bisa menangkap tema pembicaraan mereka: cinta antara majikan dan supir pribadi. Uhh FTV banget! Tapi ternyata banyak contoh kasus nyata yang mereka ceritakan, dari majikan yang mencintai supir yg masih beristri, ustadzah yang menikahi supirnya karena selalu setia menemani saat beliau ceramah atau cici chinese yang lebih memilih menceraikan suaminya yg sukses dan menikah dengan supirnya.

"Ya itulah yang namanya witing tresno jalaran soko kulino..." ucap ibu.

"Yoi mom," jawab saya menyetujui, sambil mencomot tempe goreng yg masih hangat.

Eh bentar!

Dengan cerita gosip tadi, saya tiba-tiba teringat teman saya, yang sering kita -saya dan teman yang lain- cengin dengan kalimat: cinta Enon dan supirnya. Hati-hati ah Enon, hehee... :p

Monday, May 30, 2011

Sometimes

Sometimes you feel complete, sometimes you also feel lacked.
Sometimes you can get anything in your life easily, sometimes you also have to worked hard to get what you want.
And sometimes you dont know the reason why all this things happened...

Thursday, September 2, 2010

(Mahasiswa) Psikolog(i) Juga Manusia

Menginjak tahun ketiga kuliah, mungkin mahasiswa -nggak cuma saya atau barangkali cuma saya saja- ngerasa berat sama titel yang berkaitan sama perkuliahan yang digeluti. (bener nggak sih?)

Dielu-elukan, dihormati, disanjung, dipuji, dan berekor dengan tuntutan masyarakat mesti begini atau begitu.

X : Tyas, kuliahnya dimana? Sekarang udah semester berapa?
Saya : di Psikologi, sekarang semester 5.
X : Wah hebat, berarti kalau Psikologi mah pasti bisa nyelesein masalah sendiri dong, kan udah tahu elmu-elmunya.

(harusnya seperti itu, tapi.....)

Saya : Eh, gue mau curhat dong. Kemaren kan...
Y : (memotong pembicaraan) Eh iya, gue tuh kemaren bla-bla-bla-bla terus bla-bla-bla-bla makanya gue bla-bla-bla. Menurut lu gue mesti gimana ya?
Saya : Mmm... kamu bla-bla-bla-bla...
Y : Oh gitu, iya juga sih. Thanks ya. (pergi/kembali ke aktivitas semula)

Curhat saya? Hilang melayang terhapus ombak.... :(

Lama-lama bawa predikat mahasiswa Psikologi, kok rasa-rasanya malah jadi susah buat nyari orang yang 'pas' buat dicurhatin kalau lagi gelisah-gundah-gulana, atau emang kenyataannya nggak ada orang yang mau dicurhatin sama saya. hheu.

Nyoba curhat sama orang, eh malah orang itu yang balik curhat. Giliran nemu orang yang mau dengerin curhatan, malah dikomentarin: "Ya ampun, masalah sepele gitu doang dipusingin. Masa anak Psikologi nggak bisa nyelesainnya sih!"

Sehebat apa sih pandangan orang-orang sama mahasiswa Psikologi, sampai-sampai buat curhat saja banyak godaannya karena dianggap sudah bisa nyelesain masalah sendiri. Hei cing, saya itu bukan makhluk sempurna. Saya manusia seperti anda. Walaupun kuliah bawa-bawa titel Psikologi, belum tentu hidup sama lempeng tanpa masalah. Walaupun banyak yang minta curhat sama saya, belum tentu saya nggak butuh yang namanya curhat. Karena ada saat-saat dimana saya juga butuh didengar! huh!

*curhatcolongan*