Ini soal candu. Sama buku -novel khususnya-. Dan candu itu ngga pernah separah ini sebelumnya! Saya nggak pernah sebegitu gila-gilaannya keluar masuk toko buku, kontak redaksi sana-sini, ngumpulin uang, tanya temen-tanya sodara, demi ngedapetin sebuah-novel-terbitan-tahun-lalu-yang-lagi-didemenin-tapi-nggak-juga-dapet-karena-ternyata-jumlahnya-terbatas!
Ahhh, candu bikin ganggu, tapi seru!
Kalau flashback ke belakang, dari zaman SD saya sudah senang baca. Dulu sih bacaannya masih sebatas Majalah Bobo atau Komik Donald Duck dan Paman Gober. Naik remaja (SMP), mulai rada beger baca-bacain majalah Gadis atau Kawanku. Disaat yang sama juga mulai suka sama novel.
Novel pertama sekaligus satu-satunya novel yang dibeli waktu SMP itu novelnya Upi Avianto, Lovely Luna. Dan sekarang entah dimana keberadaan bangke novel itu. Mungkin nyempil diantara buku-buku SMP atau udah kadung dikilo sama Papa.
Candu sama novel berlanjut lagi pas SMA. Saat itu masih belum berani beli sendiri. Kalau pun beli, dari uang extra yang dikasih Mama, Papa atau Nenek. Selebihnya sih minjem di taman bacaan deket sekolah.
Dulu, paling sering baca novel teenlit. Sesekali juga pernah baca novelnya Fira Basuki atau Mira W. Tuir banget ya anak SMA bacaannya Mira W. hahaaa :p
Baru setelah masuk kuliah, si candu mulai beraksi. Tepatnya sejak dua tahun lalu. Setelah merasa punya kelebihan uang diluar uang saku yang dikasih ortu, mulai berani deh beli novel. Alhamdulillah, sampai sekarang ada lebih dari 50 little monsters yang saya beli dengan uang sendiri. Hopefully, it'll be grow more and more :)
Dan candu itu semakin permanen, setelah mengerucutkan diri menyukai novel-novelnya @ratihkumala @BilanganFu, @clara_ng, dan yang terbaru adalah Maradilla Syachridar. Mereka berempat punya ciri khas yang beda, yeah they must be like that haha. @ratihkumala jago sama tema-tema budaya yang diangkat dalam setiap novelnya. Kalau @clara_ng pasti ngga pernah absen menuhin novelnya sama unsur yang nyikologi. Beda halnya sama @BilanganFu, selalu seimbang dengan spiritualitas ketuhanan dan seksualitas. Tentu saja dibarengi sama gaya bahasa yang simple tapi ngena. Asik.
Nah kalau Maradilla Syahridar? Karya doi inilah yang lagi ngebet banget dicari. At least, sedikit-sedikit pernah ngintip penggalan tulisannya lewat monolog seorang teman.
Bikin penasaran sih, makanya dicari.
Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts
Friday, August 3, 2012
Wednesday, July 18, 2012
Perahu Kertas
Perahu kertasku kan melaju
Membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila
Tapi ini adanya
Perahu kertas mengingatkanku
Betapa ajaib hidup ini
Mencari-cari tambatan hati
Kau sahabatku sendiri
Hidupkan lagi mimpi-mimpi
Cinta... cinta....
Cita-cita.....
Yang lama ku pendam sendiri
Berdua.....
Ku bisa percaya
Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada diantara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu
Tiada lagi yang mampu berdiri halangi rasaku cintaku padamu
(OST Perahu Kertas-Maudy Ayunda)
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu
Tiada lagi yang mampu berdiri halangi rasaku cintaku padamu
(OST Perahu Kertas-Maudy Ayunda)
Saturday, May 26, 2012
Liga Danone (19-20 Mei 2012)
Sabtu lalu, saya kebagian amanah untuk ngasuh eh nemenin si bungsu -Ghifar- ikut seleksi Kualifikasi Lokal Liga Danone 2012, di Stadion Jalak Harupat. Kebetulan, Ayah dan Ibu sedang ada urusan jadi baru ke Bandung hari sabtu malam, otomatis saya yang mesti gantiin. Niatnya sih sambil mau sok-sok'an jadi manajer, tapi sama sekali nggak ngerti istilah bola, haha.
Sedikit cerita, Liga Danone ini merupakan festival sepakbola anak usia 10-12 tahun terbesar di dunia, bahkan sudah diakui sebagai Piala Dunia sepakbola untuk anak-anak oleh FIFA. Di tahun ini, Liga Danone memasuki tahun ke 8 atau 9 (lupa!). Dan menurut media release yang saya baca, festival sepakbola yang disonsori oleh Danone ini katanya diikuti oleh sekitar 4.800 tim sepak bola dengan sekitar 70.000 pemain dari 14 kota, salah satunya diikuti oleh adik saya dan Sekolah Sepak Bolanya!
Bagi Putra Mandiri -nama SSB adik saya- festival sepakbola ini bukan pengalaman yang pertama, sebelumnya mereka pernah ikut berpartisipasi tapi belum dapat kesempatan untuk menang. Sedangkan untuk adik saya, Liga Danone ini adalah pengalaman pertamanya. Doi baru masuk SSB sekitar 6 bulan lalu, dan sang pelatih langsung masukinnya ke tim utama yang dipersiapankan untuk festival ini. Katanya sih, si pelatih jatuh cinta sama badannya yang kelewat bongsor.
Adik saya ini emang menang di body doang. soal nyali mah segede upil ! Ke kamar mandi aja selalu minta di anterin. Disuruh beli sesuatu ke warung aja nggak berani. Kadang suka sok-sok'an cool (tapi lebih seringnya sih 'cool-leuheu'). Kalau ditanya cuma jawab: 'iya', 'enggak', atau 'ehem-ehem' doang. Giliran lagi ada maunya, marah-marahnya ngalahin gajah ngamuk! Makanya, pas doi cerita pengen masuk SSB, orang-orang rumah awalnya pada nggak percaya. Tapi dia keukeuh dan akhirnya dapat izin.
Sepakbola memang minat doi sejak kecil. Setiap hari pasti selalu main bola di halaman rumah. Akibatnya, pasti ada aja genteng yang pecah atau pot yang rusak gara-gara tendangannya. Pantas aja kalau sekali tendang pot bisa langsung rusak, karena pas pertandingan pun doi dipercayakan untuk menendang bola saat penalti. Dua kali penalti, dua kali pula doi bikin gol.
Walaupun nggak melangkah maju menuju Warsawa-Polandia, doi dan timnya berhasil masuk sebagai salah satu dari 32 besar SSB di tingkat Jawa Barat. Itu merupakan pencapaian yang sangat hebat, mengingat usianya di SSB masih orok banget. Apalagi, dengan bergabungnya di SSB, seolah-seolah menjadi terapi untuk menambah kepercayaan dirinya. Kasih jempol terbaik untuk Dede ;)
Foto oleh: Rehyan
Sedikit cerita, Liga Danone ini merupakan festival sepakbola anak usia 10-12 tahun terbesar di dunia, bahkan sudah diakui sebagai Piala Dunia sepakbola untuk anak-anak oleh FIFA. Di tahun ini, Liga Danone memasuki tahun ke 8 atau 9 (lupa!). Dan menurut media release yang saya baca, festival sepakbola yang disonsori oleh Danone ini katanya diikuti oleh sekitar 4.800 tim sepak bola dengan sekitar 70.000 pemain dari 14 kota, salah satunya diikuti oleh adik saya dan Sekolah Sepak Bolanya!
Pertandingan hari pertama dilapangan luar Jalak Harupat. He's on number 38!
SSB Putra Mandiri U-12. Ada yang nyempil di pokok kanan bawah; Ojan!
Pemanasan di lapangan Jalak Harupat yang panas!
Pemanasan sebelum pertandingan hari kedua
Lagi-lagi ada yang nyempil di tengah pakai kaos Intermilan :p
Adik saya ini emang menang di body doang. soal nyali mah segede upil ! Ke kamar mandi aja selalu minta di anterin. Disuruh beli sesuatu ke warung aja nggak berani. Kadang suka sok-sok'an cool (tapi lebih seringnya sih 'cool-leuheu'). Kalau ditanya cuma jawab: 'iya', 'enggak', atau 'ehem-ehem' doang. Giliran lagi ada maunya, marah-marahnya ngalahin gajah ngamuk! Makanya, pas doi cerita pengen masuk SSB, orang-orang rumah awalnya pada nggak percaya. Tapi dia keukeuh dan akhirnya dapat izin.
Sepakbola memang minat doi sejak kecil. Setiap hari pasti selalu main bola di halaman rumah. Akibatnya, pasti ada aja genteng yang pecah atau pot yang rusak gara-gara tendangannya. Pantas aja kalau sekali tendang pot bisa langsung rusak, karena pas pertandingan pun doi dipercayakan untuk menendang bola saat penalti. Dua kali penalti, dua kali pula doi bikin gol.
Walaupun nggak melangkah maju menuju Warsawa-Polandia, doi dan timnya berhasil masuk sebagai salah satu dari 32 besar SSB di tingkat Jawa Barat. Itu merupakan pencapaian yang sangat hebat, mengingat usianya di SSB masih orok banget. Apalagi, dengan bergabungnya di SSB, seolah-seolah menjadi terapi untuk menambah kepercayaan dirinya. Kasih jempol terbaik untuk Dede ;)
Lihat perbedaannya!
Kiri: produk susu SGM yang nggak pernah olahraga. Kanan: Produk susu Morinaga yang doyan olahraga.
Ghifar dan Ojan (today)
Ghifar dan Ojan (3 tahun lalu). Perut Ghifar masih budayut bucitreuk, kalau Ojan dari dulu sampai sekarang masih tetep kurus !
Mamski Papski datang di hari kedua. Paspki lagi anteng minum milkuat :p
Oleh-oleh dari Jalak Harupat. Suku belaaaaaaangs !!!
Tuesday, May 8, 2012
The Way Home (2002)
Ternyata, culture shock tidak hanya berlaku untuk Sangwo dalam film The Way Home saja --yang harus melepaskan kehidupan modernnya dan tinggal didesa bersama Neneknya yang bisu dan buta huruf-- tapi berlaku juga untuk saya. Disaat siangnya saya bersama adiknya nonton The Avengers, dimana emosi saya bergejolak melihat super hero-super hero ganteng nan gagah beraksi, malamnya saya melanjutkan nonton The Way Home, sebuah film yang sangat menyebalkan dan menyedihkan! Dan tentu saja membuat emosi saya kembali bergejolak. Halah!
Di 10 menit pertama saja, saya sudah mulai uring-uringan; kapan film ini selesai? Ketika saya melihat durasinya, ternyata masih ada 70 menit lagi! Ahhh, saya benar-benar nggak tega menonton film ini. Tapi film ini kadung di putar, dan saya penasaran dengan endingnya. Walaupun selama nonton film, saya terus-terusan rewel. Si Sangwo ini benar-benar bikin kesel dan pitakoleun pisan!
Pantas saja, Douglas, si teman yang merekomendasikan film ini, selalu bertanya tiap bertemu apakah saya sudah menonton filmnya atau belum. Ah, baru nyadar, ternyata saya menunda-nunda menonton film yang banyak pembelajaran didalamnya. Thanks ya, Do :)
Di 10 menit pertama saja, saya sudah mulai uring-uringan; kapan film ini selesai? Ketika saya melihat durasinya, ternyata masih ada 70 menit lagi! Ahhh, saya benar-benar nggak tega menonton film ini. Tapi film ini kadung di putar, dan saya penasaran dengan endingnya. Walaupun selama nonton film, saya terus-terusan rewel. Si Sangwo ini benar-benar bikin kesel dan pitakoleun pisan!
Pantas saja, Douglas, si teman yang merekomendasikan film ini, selalu bertanya tiap bertemu apakah saya sudah menonton filmnya atau belum. Ah, baru nyadar, ternyata saya menunda-nunda menonton film yang banyak pembelajaran didalamnya. Thanks ya, Do :)
The most sadness movie I've ever seen. Yang nggak tegaan, mending jangan nonton film ini :)
Di akhir film ada tulisan; Film ini didedikasikan untuk seluruh nenek. Hmmm jadi kangen Mbah (kiri) dan Emak (kanan), mudah-mudahan aku bukan cucu yang bandel kayak Sangwo yaaaa ^^
Thursday, May 3, 2012
Hysteria (2011)
By the way, pernah denger istilah sex toys? Kalau pernah, berarti tahu dong apa yang dimaksud dengan dildo? Upss, geernya saya sih tulisan ini dibaca sama 18+ hehe. Pernah nggak sih terlintas dalam pikiran kalian kenapa mesti ada dildo? Hmmm, awalnya saya juga nggak ngerti. Saya pikir, kalau masih ada laki-laki yang normal, ngapain mesti menciptakan alat seks berbentuk replika p*nis laki-laki yang bisa bergetar? :p
Tapi akhirnya, wawasan saya tentang si dildo ini jadi bertambah setelah saya nonton Film Hysteria (2001), sebuah drama komedi yang menceritakan tentang asal muasal penemuan vibrator tersebut. Lucunya, di 2 menit pertama film tersebut menayangkan sebuah tulisan: "This story is based on true events. Really." Haha, takut ada yang nggak percaya kali ya.
Film Hysteria menceritakan tentang Dr.Mortimer Granville (si penemu vibrator) yang dipecat dari rumah sakit tempatnya bekerja karena adanya ketidaksesuaian idealisme antara dirinya dengan atasannya. Kemudian, ia mencari kerja lagi sampai akhirnya diterima di tempat praktik khusus gangguan Hysteria milik Dr.Robert Dalrymple. Dr.Robert Darlymple memiliki dua anak perempuan yang memiliki kepribadian yang berbeda. Emily Dalrymple, seorang perempuan yang lembut tetapi betah bertahan hidup dibawah ketiak ayah. Berbeda dengan kakaknya, Charlotte Dalrymple, yang begitu meledak-ledak, berani dan aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial yang membela kaum perempuan dan kaum marginal.
Di tempat praktiknya yang baru, Dr.Mortimer Granville harus menggantikan Dr.Robert Darlymple dalam melakukan terapi untuk menangani pasien-pasien Hysteria. Pada saat itu, gangguan Hysteria sedang banyak dialami oleh para perempuan. Terapi yang dilakukan yaitu dengan cara merangsang perempuan untuk mencapai orgasme dengan cara menggerak-gerakkan jari-jari si dokter didalam (maaf) kemaluan perempuan yang mengalami gangguan tersebut. Saking seringnya melakukan terapi tersebut, tangan Dr.Mortimer Granville menjadi kaku dan pegal-pegal. Sampai-sampai untuk menyendok makanan pun tidak bisa. Sampai akhirnya, muncullah ide untuk membuat suatu alat vibrator untuk mengambil alih tugas tangannya yang ia kembangkan bersama sahabatnya, Edmund St. John-Smythe. Akhirnya terciptalah alat vibrator, yang diakhir cerita dijelaskan bahwa alat tersebut menjadi perangkat seks paling populer di dunia.
Terlepas dari jalan ceritanya, film Hysteria memberikan suatu pemahaman menarik untuk saya. Bermula ketika diawal film ditayangkan testimonial para pasien hysteria. Dengan berat hati mereka bercerita tentang keluhan-keluhan yang mereka rasakan. Bagaimana sulitnya mengelola rumah tangga sendirian, perasaan hampa, kesepian ditinggal mati suami atau ketidakpuasan seksual yang dialami. Sayangnya, justru mereka lebih banyak memendam keluhan-keluhan tersebut. Dengan posisi yang dibawah laki-laki, mereka tidak berani bicara karena hak-hak mereka terhalangi. Tekanan-tekanan batin itulah yang akhirnya memunculkan gangguan hysteria. Ah, isu-isu perempuan yang termarginalkan memang tidak pernah habis untuk dibahas.
Kalau saya cermati, bisa saja ketidakpuasan seksual yang berakhir pada gangguan hysteria itu misalnya berasal dari pengalaman orgasme yang tidak dialami perempuan saat berhubungan seksual. Kan ada kasus, dimana hubungan seksual berakhir setelah si suami sudah mencapai orgasme, tanpa memperhitungkan apakah si istri sudah puas (orgasme) atau belum. Yang akhirnya, si istri jadi berpura-pura sudah mencapai orgasme demi suaminya. Kalau sepemahaman saya sih, yang namanya hubungan seksual kan dilakukan oleh berdua. Berarti idealnya keuntungannya pun mesti dirasakan berdua dong. Suami puas, istri juga puas :p
Dari beberapa artikel, kesulitan perempuan mencapai orgasme bisa saja terjadi karena kualitas hubungan seksual yang rendah yang disebabkan karena kelelahan yang mungkin sedang dialami perempuan, stres, kondisi kesehatan yang kurang baik ataupun kurangnya penghargaan dari suami yang membuat istri merasa rendah diri. Kadang jadi miris, sudah mah tidak merasakan orgasme, eh si istri juga tidak pandai mengkomunikasikan apa yang dirasakannya pada suami. Lebih parahnya lagi, suami pun kurang peka dengan keadaan istri. Kalau keadaannya seperti itu, tidak heran kan kalau akhirnya makhluk bernama dildo itu muncul ke dunia?
Dari total durasi selama 90 menit, setidaknya ada pelajaran berharga yang saya dapat dari film tersebut. Pentingnya memiliki pendirian yang teguh seperti Dr.Mortimer Granville, serta pentingnya keberanian untuk berpendapat dan memperjuangkan hak-hak secara positif seperti yang dilakukan Charlotte Dalrymple. Terutama untuk perempuan, jangan mau terus-terusan hidup dibawah ketiak laki-laki yang tidak bisa bahkan tidak mampu membahagiakan kita dengan benar ya. Film ini direkomendasikan baik untuk perempuan maupun laki-laki lho.
NB: Dari tadi saya meracau sok tahu tentang orgasme, haha. Maaf ya kalau sotoy, saya sendiri nggak tahu secara langsung apa dan bagaimana orgasme itu, cuma tahu dari cerita-cerita di artikel aja, hihiii :p
Tapi akhirnya, wawasan saya tentang si dildo ini jadi bertambah setelah saya nonton Film Hysteria (2001), sebuah drama komedi yang menceritakan tentang asal muasal penemuan vibrator tersebut. Lucunya, di 2 menit pertama film tersebut menayangkan sebuah tulisan: "This story is based on true events. Really." Haha, takut ada yang nggak percaya kali ya.
Film Hysteria menceritakan tentang Dr.Mortimer Granville (si penemu vibrator) yang dipecat dari rumah sakit tempatnya bekerja karena adanya ketidaksesuaian idealisme antara dirinya dengan atasannya. Kemudian, ia mencari kerja lagi sampai akhirnya diterima di tempat praktik khusus gangguan Hysteria milik Dr.Robert Dalrymple. Dr.Robert Darlymple memiliki dua anak perempuan yang memiliki kepribadian yang berbeda. Emily Dalrymple, seorang perempuan yang lembut tetapi betah bertahan hidup dibawah ketiak ayah. Berbeda dengan kakaknya, Charlotte Dalrymple, yang begitu meledak-ledak, berani dan aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial yang membela kaum perempuan dan kaum marginal.
Di tempat praktiknya yang baru, Dr.Mortimer Granville harus menggantikan Dr.Robert Darlymple dalam melakukan terapi untuk menangani pasien-pasien Hysteria. Pada saat itu, gangguan Hysteria sedang banyak dialami oleh para perempuan. Terapi yang dilakukan yaitu dengan cara merangsang perempuan untuk mencapai orgasme dengan cara menggerak-gerakkan jari-jari si dokter didalam (maaf) kemaluan perempuan yang mengalami gangguan tersebut. Saking seringnya melakukan terapi tersebut, tangan Dr.Mortimer Granville menjadi kaku dan pegal-pegal. Sampai-sampai untuk menyendok makanan pun tidak bisa. Sampai akhirnya, muncullah ide untuk membuat suatu alat vibrator untuk mengambil alih tugas tangannya yang ia kembangkan bersama sahabatnya, Edmund St. John-Smythe. Akhirnya terciptalah alat vibrator, yang diakhir cerita dijelaskan bahwa alat tersebut menjadi perangkat seks paling populer di dunia.
Terlepas dari jalan ceritanya, film Hysteria memberikan suatu pemahaman menarik untuk saya. Bermula ketika diawal film ditayangkan testimonial para pasien hysteria. Dengan berat hati mereka bercerita tentang keluhan-keluhan yang mereka rasakan. Bagaimana sulitnya mengelola rumah tangga sendirian, perasaan hampa, kesepian ditinggal mati suami atau ketidakpuasan seksual yang dialami. Sayangnya, justru mereka lebih banyak memendam keluhan-keluhan tersebut. Dengan posisi yang dibawah laki-laki, mereka tidak berani bicara karena hak-hak mereka terhalangi. Tekanan-tekanan batin itulah yang akhirnya memunculkan gangguan hysteria. Ah, isu-isu perempuan yang termarginalkan memang tidak pernah habis untuk dibahas.
Kalau saya cermati, bisa saja ketidakpuasan seksual yang berakhir pada gangguan hysteria itu misalnya berasal dari pengalaman orgasme yang tidak dialami perempuan saat berhubungan seksual. Kan ada kasus, dimana hubungan seksual berakhir setelah si suami sudah mencapai orgasme, tanpa memperhitungkan apakah si istri sudah puas (orgasme) atau belum. Yang akhirnya, si istri jadi berpura-pura sudah mencapai orgasme demi suaminya. Kalau sepemahaman saya sih, yang namanya hubungan seksual kan dilakukan oleh berdua. Berarti idealnya keuntungannya pun mesti dirasakan berdua dong. Suami puas, istri juga puas :p
Dari beberapa artikel, kesulitan perempuan mencapai orgasme bisa saja terjadi karena kualitas hubungan seksual yang rendah yang disebabkan karena kelelahan yang mungkin sedang dialami perempuan, stres, kondisi kesehatan yang kurang baik ataupun kurangnya penghargaan dari suami yang membuat istri merasa rendah diri. Kadang jadi miris, sudah mah tidak merasakan orgasme, eh si istri juga tidak pandai mengkomunikasikan apa yang dirasakannya pada suami. Lebih parahnya lagi, suami pun kurang peka dengan keadaan istri. Kalau keadaannya seperti itu, tidak heran kan kalau akhirnya makhluk bernama dildo itu muncul ke dunia?
Dari total durasi selama 90 menit, setidaknya ada pelajaran berharga yang saya dapat dari film tersebut. Pentingnya memiliki pendirian yang teguh seperti Dr.Mortimer Granville, serta pentingnya keberanian untuk berpendapat dan memperjuangkan hak-hak secara positif seperti yang dilakukan Charlotte Dalrymple. Terutama untuk perempuan, jangan mau terus-terusan hidup dibawah ketiak laki-laki yang tidak bisa bahkan tidak mampu membahagiakan kita dengan benar ya. Film ini direkomendasikan baik untuk perempuan maupun laki-laki lho.
NB: Dari tadi saya meracau sok tahu tentang orgasme, haha. Maaf ya kalau sotoy, saya sendiri nggak tahu secara langsung apa dan bagaimana orgasme itu, cuma tahu dari cerita-cerita di artikel aja, hihiii :p
Thursday, April 26, 2012
Sakitnya Bermodus Anomali
Sebulan lalu dibikin stres gara-gara film The Raid. Eh sekarang dibikin 'sakit' sama Modus Anomali! Kedua film yang waktu tayangnya cuma selisih satu bulan itu, setidaknya bisa menjadi trigger positif untuk pergeseran genre film Indonesia dari film esek-esek ke film yang benar-benar berkualitas. Ini yang sebenarnya saya tunggu-tunggu :)
Ngomongin soal Modus Anomali, yang langsung saya inget ya Bang Joko Anwar. Apalagi dari beberapa hari sebelum penayangan, doi berisik banget di twitter ngomongin soal filmnya. Malah doi juga berharap filmnya bisa balik modal. Kalau nggak, doi bakal jadi sutradara film porno di Jepang, haha. Tenang Bang, orang-orang kita emang belum semuanya 'sadar' sama film-film bagus, tapi saya tetap setia sama film-film Abang kok! I love you, Bang :)
@jokoanwar: Semoga Modus Anomali balik modal. Kalo gak, kayaknya gue beneran pindah ke Jepang jadi porn director ajah. Wkwkwk...
@jokoanwar: Kalo bikin film produsernya balik modal, aku pun bisa bikin film lebih sering. Nggak cuman 3 tahun sekali. Hihihihi..
Joko Anwar emang nggak ada matinya dalam hal nelorin ide-ide cerita yang beda. Terbukti bahwa Modus Anomali berhasil bikin saya pusing dan akhirnya bilang: 'sakit deh ini film!'.
Saya cuma ingin sedikit memberikan apresiasi tentang hal-hal positif dari film Modus Anomali ini. Kalau soal hal-hal negatif mah, biasanya orang-orang suka lebih gampang aware kan? hehe.
Hal positif pertama yang membuat Modus Anomali itu asik adalah cast-nya yang ciamik. Siapa sih, terutama cewek-cewek, yang nggak suka sama Rio Dewanto? Kemampuan aktingnya nggak bisa dipandang sebelah mata. Beberapa waktu lalu doi berhasil memerankan tokoh pria gay di film Arisan 2, dan di film ini doi juga sukses berperan sebagai orang 'sakit'! Kalau soal ganteng mah jangan ditanya, karena emang sudah bakat dari sononya. Buktinya saat ada adegan dia stres dengan ekspresi wajah kayak orang teler sambil ngacay, tetep aja ganteng! Apalagi tatoonya itu lho hihiiii.... ;)
Hal berikutnya yang asik dari Modus Anomali adalah camera movementnya. Kayaknya Bang Joko sengaja mensyuting adegan-adegan di film dengan kamera yang dibawa sendiri sama kameramennya, maksudnya nggak pakai jasa rel-rel yang buat bawa-bawa kamera gitu (nggak tahu namanya apa). Menurut saya sih teknik itu bikin film berasa lebih hidup. Kesannya seolah-olah seperti ada orang yang mengamati si pemeran utama.
Pergerakan kamera tersebut juga di lengkapi dengan penggunaan jenis kamera yang sudah dipastikan bukan jenis kamera ecek-ecek. Pasalnya gambar yang dihasilkan jernih dan ciamik banget. Membuat pemandangan hutan yang sudah indah menjadi semakin lebih indah. Selain itu, sound effect yang digunakan juga makin bikin saya ketar-ketir. Suara-suara 'croot crooot... bag bug...' yang muncul tanpa memperlihatkan adegannya langsung malah membuat saya berimajinasi dengan pikiran saya sendiri.
Dan yang terakhir, mengenai tema psikologi (kesan psikopat dari pemeran utama) yang diangkat dari film itu pada dasarnya sudah menarik. Tapi memang tidak secara rinci dijelaskan kenapa dan bagaimana orang tersebut bisa seperti itu. Ehhhh akhirnya kesebut juga hal negatifnya :p
Ya secara keseluruhan, Modus Anomali mampu memberikan udara segar di tengah-tengah pengapnya suasana perfilman Indonesia yang begitu-begitu aja. Saya berani menjajarkannya ke dalam deretan film-film thriller Indonesia terbaik yang pernah saya tonton seperti Kala, Pintu Terlarang dan Rumah Dara. Walaupun secara kuantitatif, jumlah penonton saat saya nonton tadi siang tidak begitu banyak, tapi saya salut sama semua pelaku-pelaku di balik film Modus Anomali. Di tengah-tengah kelatahan perfilman Indonesia dengan tema horor esek-esek, mereka berani dan berusaha sekuat yang mereka mampu untuk menghasilkan suatu gambar bergerak yang berkualitas dan baru. Sebagai penikmat film, tentu saja saya sangat menghargainya :)
Untuk yang belum nonton, segeralah untuk menonton. Jangan lupa untuk nonton film The Raid juga. Prinsip saya sih; kalau ada film bagus, ngapain harus ditunda-tunda :)
Sunday, April 22, 2012
One Day
Dexter: Oh, come on, Em! Look, I apologize! Please!
Emma: I love you, Dexter, so much. I just don't like you anymore. I'm sorry.
Just recognized, i spent my self to read the novel with tears. Then, when i watched the movie, i started to crying again. Goddamnit !
Saturday, February 25, 2012
Fly Me To Polaris dan 49 Days
Yang saya tahu dari film-film Cina/Hongkong, cuma sebatas film vampir, Boboho dan film dari aktor kesukaan ayah saya, Jackie Chen dan Sammo Hung. Saya pikir nggak ada film drama romantis ala orang Cina, padahal lucu kan lihat koko-koko bermata segaris romantis-romantisan. Ternyata anggapan saya terbantahkan saat nggak sengaja nemuin satu film drama Cina berjudul Fly Me To Polaris.



Ceritanya sebetulnya fantasi banget. Tentang seorang pemuda buta, Onion (diperankan oleh Om Richie Ren) yang meninggal karena sebuah kecelakaan, kemudian oleh malaikat dia diberi privilege sehingga diizinkan kembali ke bumi untuk menyelesaikan segala urusan dalam hidupnya termasuk menyatakan cinta pada Autum dalam waktu 5 hari. Onion kembali ke bumi dengan beberapa aturan yang diberikan malaikat kepadanya; semua orang tidak akan mengenal dirinya karena memori orang-orang tentang dirinya telah dihapus, tidak boleh memberi tahukan jati dirinya tetapi ia boleh memberikan tanda-tanda bahwa dirinya adalah Onion, dan ia pun bisa melihat.
Film keluaran tahun 1999 dan berhasil menguras air mata ini sepertinya never gets old deh, pas saya googling cari tahu tentang film ini ternyata masih banyak orang yang nonton film ini dan suka! Secara gitu ya, mungkin cuma beberapa orang yang yang ditengah-tengah banyaknya film sci-fi ala tahun 2012 masih nontonin film jadul-fantasi dengan aktor bergaya rambut ala personil F4. Ya, saya salah satunya.
Film bercerita sejenis pun pernah saya tonton sebelumnya, yaitu drama series Korea berjudul 49 Days. Beberapa waktu lalu salah satu channel TV kita pun pernah menayangkannya.

49 Days menceritakan tentang seorang gadis yang mengalami koma pasca kecelakaan yang membawanya ke gerbang kematian. Menurut malaikat penjemput nyawa, sebetulnya saat itu belum waktunya ia mati. Malaikat itu pun menyatakan bahwa ia bisa bangun dari koma dan sehat kembali dengan syarat ia harus mengumpulkan air mata dari 3 orang yang benar-benar menyayanginya dengan tulus (kecuali kedua orangtuanya). Sama seperti Onion, si gadis ini pun tidak boleh memberitahukan jati diri yang sebenarnya. Sehingga ia harus meminjam tubuh seseorang untuk menjalankan misinya tersebut dalam waktu 49 hari.
Mengumpulkan air mata dari 3 orang bukanlah perkara yang mudah. Orang-orang terdekat yang ia ketahui menyayanginya semasa hidup ternyata pada kenyataannya tidak. Ia akhirnya tahu bahwa sahabatnya mengkhianatinya dan tunangannya tidak murni mencintainya. Namun dari situ juga ia tahu bahwa ada seseorang menyayanginya dengan tulus diluar dari yang ia bayangkan.
Dari dua film fantasi tersebut, setidaknya saya semakin yakin bahwa waktu kematian itu sesungguhnya diluar kekuasaan kita. Negosiasi tidak akan berguna lagi andaikata Malaikat Maut sudah menghampiri kita. Yaaa, coba manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya waktu yang masih disisakan Tuhan untuk kita sebelum semuanya beralih menjadi sejarah :)
Saturday, February 18, 2012
Nggak eh Belum Ada di Bioskop
Makin madesu deh lihat film-film kita sekarang. Baru-baru ini muncul lagi film hantu esek-esek; Rumah Hantu Pasar Malam. Heuuu bikin tepok jidat deh! Sebenarnya hati miris tapi apa daya tak kuasa memberi solusi.
-Postcards From The Zoo (2012)





Kompensasinya ya beralih ke film festival atau film indie atau film-yang-lebih-terkenal-diluar-negeri-daripada-dinegeri-sendiri, yang nggak ada eh jarang ada di bioskop. Padahal film-film itu jaaaaauuuuhhhh lebih unik, keren dan nggak biasa. Ya mungkin juga, pasarnya film festival/film indie belum seheboh film-film yang sekarang ada di bioskop, atau mungkin tema-tema dari film-film itu sendiri yang belum dekat atau agak riskan bagi masyarakat kita, seperti salah satunya tema LGBT.
Setelah ngintip-ngintip beberapa website milik para jagonya film festival/film indie dan info-info dari temen, ada beberapa film yang pengen banget di tonton:
-Postcards From The Zoo (2012)

Ini adalah anak barunya Bang Edwin setelah melahirkan Trip to The Wound dalam 9808 dan Babi Buta Yang Ingin Terbang.
"Gambar, musik, dialog adalah komposisi irama tenang dan mencong pada cerita yang sederhana: Seorang gadis yang sejak kecil hidup di kebun binatang yang suatu saat harus pergi meninggalkan tempat itu, berkelana bersama seorang pesulap berkostum koboi, hingga mendarat di tempat spa plus. Wajar dan sureal. Dan sangat indah."
-Belkibolang: Jakarta, Je t'aime (2010)

Pas lagi asik liatin review Postcards From The Zoo, muncul film antologi Belkibolang. Satu lagi film antologi yang ciamik! Ini adalah sembilan film pendek tentang Jakarta lengkap dengan segala amburadulitasnya. Katanya sih ini film karya sutradara muda dan berbahaya (salah duanya Bang Edwin dan Bang Ifa Isfansyah), dan bakal makin bahaya lagi kalau nontonnya sambil bawa anak dibawah umur, haha.
-Children of Srikandi (2012)

"The first film by queer women about queer women from Indonesia,
"For the first time, queer Indonesian women are breaking the code of silence"
IT'S A MUST !!!
-Garis Bawah/Below The Line (2012)

Ratna Sarumpaet nggak cuma ahli sebagai aktivis HAM aja, doi juga ahli bermain peran. Garis bawah adalah salah satu buktinya. Dalam film tersebut, doi sebagai Surti, seorang tunawisma, dengan segala keterbatasan ekonomi yang dialaminya harus berjuang untuk memberikan pemakaman yang terbaik untuk suaminya. Pasti bakal touching banget !
-Mata Tertutup (2012)

Om Garin Nugroho is back! Doi muncul bawa oleh-oleh Mata Tertutup, sebuah film yang mengangkat kisah tentang radikalisme yang berkembang di masyarakat akibat pemikiran yang sempit, penafsiran agama yang salah dan masalah sosial lainnya. Jenius !
Walaupun belum nonton dan baru liat sinopsisnya aja, saya berani jamin kalau film-film itu benar-benar bagus. Dan tentunya masih banyak film-film sejenis diluaran sana, tinggal pinter-pinternya kita aja buat nyari mereka. Yaaaa, lumayan bisa bernafas lega deh ditengah himpitan film esek-esek.
Keep alive film-film cerdas !
Tuesday, February 14, 2012
Merah Kuningnya Cap Go Meh

Pas malam-malam, lampion ini cantik banget! Sayang nggak ada dokumentasinya.

Raaaawwww... Si Naga Liong menyambut tahun Naga Air

Si Kuning lagi rebutan angpao nih.

Ini adalah salah satu prasasti kleteng, saat pawai Cap Go Meh, semuanya ikut di arak dan dipamerkan.
Loncat sana, loncat sini, ngejar angpao. Yiiihaaaaaa...

Nggak mandang itu Chinese atau bukan, semuanya ikut dempet-dempetan menyaksikan pawai. Ah indahnya kebersamaan, ini kan yang disebut kebahagiaan hakiki ;)
Si kecil juga nggak mau kalah lho. Duuuhhh mata segarisnya nggak nahaaaaannn...
Sun Go Kong dan pasukan.
Dewi Kwan Im, cuma keambil belakangnya aja :(
Si Cepot dan kawan-kawan pun nggak mau kalah ngeksis lho. Nggak cuma kesenian Cina, tapi kesenian Sunda pun ikutan eksis diperayaan Cap Go Meh ini.

Ihhh teteh-teteh cantik nih.
Para gadis (udah kadaluarsa)
Para penikmat pawai dan pencari koko. Ups!
Perayaan ini nggak cuma sekedar perayaan bagi salah satu pemeluk agama/kepercayaan tertentu, tapi sebagai bentuk hangatnya pluralisme dan berbagi kebahagiaan ditengah perbedaan.
So, Cap Go Meh nya udah, lontongnya manaaaaaaa????
Tuesday, January 3, 2012
Daydreaming In The Middle Of Hectic Day :)

Don't you worry there my honey
We might not have any money
But we've got our love to pay the bills
Maybe I think you're cute and funny
Maybe I wanna do what bunnies do with you
If you know what I mean
Oh, let's get rich and buy our parents homes
In the south of France
Let's get rich and give everybody nice sweaters
And teach them how to dance
Let's get rich and build our house on a mountain
Making everybody look like ants
From way up there, You and I
(Ingrid Michaelson-You And I)
Ping
Ah Ping, memang aku akui bahwa kita hanya berbeda pada status sebagai makhluk hidup saja, aku manusia dan kau hewan. Nyatanya, apa yang tengah kita usahakan disemesta ini serupa. Kau dengan cerita pencarian kolam barumu dan aku dengan ceritaku. Sama-sama bersabar menghadapi ujian walau terkadang jatuh dan pesimis dengan kemampuan diri, lalu bangkit berkat suplemen energi dari orang-orang terkasih; Burung Hantu, si guru bagi kehidupanmu, dan Ibunda, Ayah dan para sahabat, bagiku.
Selamat untukmu, Ping. Kau mampu berdiri pada keputusanmu sendiri serta bersahabat dan menari dengan kehidupan hingga akhirnya berhasil menemukan kolam impianmu. Ayo berikan selamat untukku juga, karena aku sedang menuju kesitu, menuju kekuatan luar biasa yang sudah kau miliki mendahului aku.
Aku ingat katamu, Ping;
Kita adalah pengembara, melakukan perjalanan bersama, yang diciptakan untuk menjalani hidup yang berkemenangan, mengizinkan 'jalan' yang paling sejati dalam diri kita untuk menetapkan arah.
Ya, aku telah melakukan pengembaraan yang tidak singkat, Ping. Membiarkan diriku terseret arus pun, aku pernah. Sampai akhirnya aku memilih untuk bertindak daripada diam agar dapat mengada. Dan lihatlah, dengan sendirinya 'jalan' itu pun menemuiku.
Terimakasih, Ping. Aku banyak belajar darimu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk Inel dan Isma; sekelumit cerita yang kubagi dimalam yang penuh daging itu memang tidak membuatku move on, tetapi menuntunku pada pertemuan antara aku dengan 'jalan' baruku. Mudah-mudahan ini sebagian kecil dari apa yang disebut Sang Pemilik Jalan sebagai Ihdinasiratal mustakim ^^
Monday, July 11, 2011
Crazy Little Thing Called Love
Film-film Thailand ternyata nggak cuma 'megang' di film-film horor kayak Comming Soon atau 4bia aja. Karena setelah muncul film bergenre romantic-comedy, Hello Stranger, mulailah bermunculan film-film bergenre sejenis, salah satunya Crazy Little Thing Called Love.

Ceritanya simple! Cinta-cintaan antara junior ke senior. Si junior jadi secret admirer si senior. Terus dari cinta-cintaan ngerubah si junior yang tadinya itik buruk rupa bermetamorfosis jadi angsa cantik.
Komplit! Itu komentar saya buat film ini. Sederhana tapi didalamnya nano-nano, ada lucunya, ada sedihnya, ada romantis-romantisnya. Kocak deh! Sinematografinya simple dan si cameramennya pinter ngambil spot-spot yang keren, jadinya makin keci deh ini film.
Pas nonton film ini, lucu aja sambil ngingetin masa-masa muda dulu waktu lagi seneng-senengnya ngecengin kakak kelas. Tapi nggak seheboh si Nam di film ini, just admired aja tanpa niat buat dideketin. Buat seru-seruan sama temen, hihiiii. Pernah waktu SMP; jamannya masih ingusan dan ababil banget, se-geng ngecengin satu orang kakak kelas! Tiap istirahat langsung standby di pinggir lapangan liatin si kakak yang suka maen basket sambil makan roti ato jajanan kantin. Atau waktu SMA, berdua sama temen sekelas ngecengin kakak-kelas-cowok-kembar. Suka lewat depan kelasnya cuma buat liat mereka ada atau nggak. Terus kalau lagi rumpi-rumpi, ngomongin doi-doi pake panggilan spesial: si A di panggil bawang merah, si B dipanggil bawang putih. Aihhh ababilnya masa muda gw!
Then, college?
Hmmm, jadi keingetan si smart yang ada di dunia antah berantah sana. Ups! Time's Up!
Sampai jumpa semua, besok saya hijrah ke desa buat KKN. Wish me luck :)
Saturday, June 18, 2011
(Review) Finding Mr. Destiny dan The Rommate
Setelah sekian lama nggak review film, kali ini saya mau review 2 film yang saya tonton semalam sebelum UAS. Satu film drama korea (Finding Mr.Destiny), satunya lagi film thriller (The Roomate).
Finding Mr.Destiny, menceritakan tentang seorang wanita, Ji Woo, yang dipaksa ayahnya untuk mencari cinta pertamanya, Kim Jong Wook, lelaki yang ditemuinya 10 tahun yang lalu saat berlibur di India, dengan bantuan jasa perusahaan 'First Love' milik Gi Joon. Ji Woo -yang sebenarnya masih menyimpan identitas Kim Jong Wook- tidak mau memberikan informasi tentang Kim Jong Wook kepada Gi Joon. Ji Woo tidak mau bertemu dengan Kim Jong Wook karena ia takut dengan takdirnya, ia takut jika cinta pertamanya tidak seindah yang ia rasakan dulu. Singkat cerita, Ji Woo akhirnya bertemu dengan Kim Jong Wook atas bantuan Gi Joon, tetapi pertemuan ini hanya bertujuan untuk menyelesaikan hubungan antara dirinya dengan Kim Jong Wook, karena Ji Woo ingin memulai sesuatu yang baru dengan Gi Joon yang juga menyukai dirinya sejak bersama-sama melakukan pencarian Kim Jong Wook. Dan ternyata dari epilog di film ini, sejak 10 tahun yang lalu, Ji Woo sudah pernah bertemu dengan Gi Joon di bandara, dan sebenarnya Mr.Destiny-nya Ji Woo itu ya Gi Joon.
Sebenarnya saya bukan korean-movie-freak, tapi pas nonton film ini lumayan seru dan lucu, ditambah lagi kepincut sama mata segarisnya Gong Yoo (pemeran Gi Joon). Sinematografinya juga simple tapi asik apalagi pas setting di India. Lucu aja liat orang-orang Korea yang putih dan matanya segaris ada diantara kumpulan orang-orang India yang belo-belo. Nice deh :)
Kalau pas nonton film Finding Mr.Destiny saya bisa tenang dan senyam-senyum liatin mata Gong Yoo, di film The Rommate lumayan bikin deg-degan dan ngeri juga (lil' bit of lebay).
Film ini menceritakan tentang Sara (Minka Kelly, yang jadi Autumn di 500 Days of Summer) yang memulai kuliahnya dan tinggal diasrama dengan teman sekamarnya Rebecca (Leighton Meester). Awalnya Sara tidak merasakan hal yang aneh tentang Rebecca, tetapi semakin lama temannya ini mulai terobsesi terhadap dirinya. Rebecca tidak suka jika Sara pergi bersama pacar atau temannya yang lain. Ia selalu berusaha untuk mencari cara agar bisa mendapatkan perhatian dan selalu bersama Sara, mulai dari membelikan tiket pameran, sengaja menyakiti dirinya dan mengatakan kepada Sara bahwa ada orang jahat yang menyakitinya saat mencari kucing peliharaan Sara yang seolah-olah hilang padahal di bunuh oleh Rebecca dengan menggilingnya di mesin cuci, sampai membunuh mantan pacar Sara! Sadis.
Awalnya saya pikir kalau Rebecca ini lesbian, karena saking protektifnya sama Sara, tapi ternyata dari salah satu adegan di film dimana Sara dan pacarnya menemukan botol Zyprexa* di laci lemari Rebecca, yang diketahui bahwa Rebecca itu mengalami gangguan psikosis. Ckckckk...
Walaupun ini termasuk ke dalam psychological thriller movies dan cukup bikin deg-degan tapi nggak semenegangkan dan nggak se-'wah' film Black Swan, Hard Candy, A Nightmare on Elm Street atau The Crazies. Tapi serunya, siapa yang bisa nyangka kalau si cantik dan polos Rebecca ternyata adalah seorang psycho! Film ini juga bagus buat ngingetin para mahasiswa, khususnya yang ngekost atau diasrama, buat hati-hati sama teman sekamarnya karena bisa jadi rommatenya itu mirip kayak Rebecca. hehehe..
*Zyprexa adalah obat untuk mengendalikan dan melumpuhkan agitasi akut pada penderita schizophrenia dan bipolar disorder. Gejala agitasi seperti kegembiraan yang ekstrim, permusuhan, kontrol impuls yang buruk, ketegangan dan un-cooperativeness (sumber: www wikipedia.com)
Sunday, June 12, 2011
Rush
Tuesday, June 15, 2010
Di Balik Frame Kamera (4)
Finally, semua testimoni sudah terkumpul. Perburuan yang memakan waktu nggak lebih dari 2 minggu akhirnya terbayarkan setengahnya, karena setengah lagi untuk proses editing yang nggak kalah menguras tenaga.
Akhir perburuan ini dimulai dari ngambil gambar chaos suasana Gasibu dari Monumen Perjuangan dipagi buta. Dan masih dihari itu juga, Tuhan memudahkan kita dalam pencarian orang-orang, buktinya sekitar 3 jam kita bisa dapetin 30 orang. Padahal kalau dibandingin hari-hari sebelumnya, 10 orang dalam satu hari aja udah beruntung banget. Mungkin juga gara-gara partner saya yang lagi ngelindur pake sendal beda antara kaki kiri dan kanan.
Surprise lainnya, kita berhasil dapet testimoni dari dua bule asal Amrik yang caem-caem, Rob dan Peter. Dengan modal inggris yang pas-pasan kita coba tanya-tanya mereka. Entah karena kegantengan si Peter yang mengganggu konsentrasi saya, saya jadi nggak mudeng dengan apa yang mereka omongin. Pelafalan kata 'tourism' aja, malah jadi 'TURISEM' [hhe]. Ya untungnya, teman saya masih ngerti bahasa bule tersebut. Tapi sayangnya, saya nggak sempet minta nomor kontak si-bule-ganteng-Peter, padahal kan lumayan buat memperluas jaringan.
Angka 200 tergenapi setelah hampir semua kalangan yang kita harapkan bisa kita dapetin, walaupun ada beberapa kalangan atas yang sulit terjangkau jadi nggak bisa nampang di dokumenter ini.
Terimakasih banyak untuk bapak, ibu, abah, emak, om, tante, teteh, aa, mas, mbak yang sudah berpartisipasi dalam dokumenter ini. Pengennya sih ngasih honda jazz satu-satu ke setiap orang yang ngasih testimoni, tapi apa daya dompet tak sampai. Saya sih paling bisa bales pake doa aja, mudah-mudahan yang lagi punya urusan dipermudah urusannya, yang lagi nyari jodoh semoga cepet dapet jodoh, yang mau cerai semoga jangan cerai, yang mau punya anak semoga dikasi banyak anak, yang mau SPMB semoga bisa masuk PT yang diinginkan, yang tertarik dan berminat dengan salah satu diantara kita semoga bisa cepet ngontak kita. [promosi]
Wish us luck ^^,
Akhir perburuan ini dimulai dari ngambil gambar chaos suasana Gasibu dari Monumen Perjuangan dipagi buta. Dan masih dihari itu juga, Tuhan memudahkan kita dalam pencarian orang-orang, buktinya sekitar 3 jam kita bisa dapetin 30 orang. Padahal kalau dibandingin hari-hari sebelumnya, 10 orang dalam satu hari aja udah beruntung banget. Mungkin juga gara-gara partner saya yang lagi ngelindur pake sendal beda antara kaki kiri dan kanan.
Surprise lainnya, kita berhasil dapet testimoni dari dua bule asal Amrik yang caem-caem, Rob dan Peter. Dengan modal inggris yang pas-pasan kita coba tanya-tanya mereka. Entah karena kegantengan si Peter yang mengganggu konsentrasi saya, saya jadi nggak mudeng dengan apa yang mereka omongin. Pelafalan kata 'tourism' aja, malah jadi 'TURISEM' [hhe]. Ya untungnya, teman saya masih ngerti bahasa bule tersebut. Tapi sayangnya, saya nggak sempet minta nomor kontak si-bule-ganteng-Peter, padahal kan lumayan buat memperluas jaringan.
Angka 200 tergenapi setelah hampir semua kalangan yang kita harapkan bisa kita dapetin, walaupun ada beberapa kalangan atas yang sulit terjangkau jadi nggak bisa nampang di dokumenter ini.
Terimakasih banyak untuk bapak, ibu, abah, emak, om, tante, teteh, aa, mas, mbak yang sudah berpartisipasi dalam dokumenter ini. Pengennya sih ngasih honda jazz satu-satu ke setiap orang yang ngasih testimoni, tapi apa daya dompet tak sampai. Saya sih paling bisa bales pake doa aja, mudah-mudahan yang lagi punya urusan dipermudah urusannya, yang lagi nyari jodoh semoga cepet dapet jodoh, yang mau cerai semoga jangan cerai, yang mau punya anak semoga dikasi banyak anak, yang mau SPMB semoga bisa masuk PT yang diinginkan, yang tertarik dan berminat dengan salah satu diantara kita semoga bisa cepet ngontak kita. [promosi]
Wish us luck ^^,
Tuesday, June 8, 2010
Biarkan Bintang Menari
Kau inginkanku menjadi seperti sang pangeranmu yang terciptakan dari dalam hatimu sejak dulu, yang kau impikan selamanya.
Kau inginkanku menjadi dewasa, karena dunia takkan menunggu hati yang bermimpi tentang dongeng kasih seorang putri dan cintanya.
Kini, mengertilah permintaan hatiku. Agar cinta dapat kembali disini. Mengertilah bahwa ku pun inginkan cinta kembali kini.
Jangan lupakan dirimu yang dulu. Ku takkan pernah lupa senyummu dengan semua kenangan kita dulu. Kuharap kini dapat kembali.
(dipopulerkan oleh Ariyo Wahab dan Dea Mirela)
Kau inginkanku menjadi dewasa, karena dunia takkan menunggu hati yang bermimpi tentang dongeng kasih seorang putri dan cintanya.
Kini, mengertilah permintaan hatiku. Agar cinta dapat kembali disini. Mengertilah bahwa ku pun inginkan cinta kembali kini.
Jangan lupakan dirimu yang dulu. Ku takkan pernah lupa senyummu dengan semua kenangan kita dulu. Kuharap kini dapat kembali.
(dipopulerkan oleh Ariyo Wahab dan Dea Mirela)
Friday, June 4, 2010
Di Balik Frame Kamera (3)
Setelah rehat satu hari untuk beristirahat dan menyelesaikan tugas akhir kuliah yang belum terselesaikan, proyekan dokumenter berlanjut lagi. Setelah dijumlah-jambleh, total testimoni yang telah didapat selama 3 hari ini adalah 107. Lumayan lah, terbayarkan kerja keras selama ini.
Pagi harinya, sebelum ketemu sama partner saya ditempat yang sudah dijanjikan, saya sengaja jalan-jalan dulu disekitar Taman Pramuka dan Riau. Mungkin karena lagi beruntung, selain hunting gambar, saya juga dapet 7-orang-baik-hati yang rela saya tanya-tanya. Untungnya lagi, mereka ramah-ramah dan cooperatif. Padahal nggak dapet reward apa-apa selain senyum manis dari saya. Hehe...
Sebenarnya, mood semalam rada-rada kurang baik. Tapi untungnya (lagi-dan-lagi), karena saking kesenengan dapetin 7 testimoni kurang dari setengah jam itulah yang membuat mood membaik.
Setelah mengambil sudut-sudut Jl.Riau yang gudangnya FO, kita berlanjut ke daerah sekitar Dago buat ngambil gambar-gambar Bandung dari tempat tinggi. Sepulang dari sana, iseng-iseng kita berhenti di satu Galeri Seni yang baru buka disekitar Dago, karena menurut partner saya, kayaknya si empunya galeri bisa diajak kerjasama. Awalnya saya ragu, tapi setelah ngobrol-ngobrol, si mas-pemiliki-galeri-yang-ternyata-masih-mahasiswa ini, baik dan ramah banget. Sampai kita tukeran nomor telepon dan FB. Sekali dayung dua tiga pulai terlampaui, testimoni buat dokumenter dapet, kenalan juga dapet. Ya lumayan juga dapet kenalan pengusaha muda, yang mungkin suatu saat nanti bisa diajak kerjasama lagi. Hehe..
Perburuan pun berlanjut ke Taman Ganesa. Mulai dari mahasiswa ITB, ibu dan anaknya, pegawai Salman ITB, anak SMA sampai pengamen kita dapetin dari sana. Selain testimoni, kita juga dapet surprise dari pengamen yang ada disana. Double COMBO !!!
Setelah jumatan dan makan siang, niatnya pengen lanjut hunting ke Cihampelas dan Pasupati, tapi karena hujan, alhasil terdamparlah kita di Ciwalk. Untungnya karena hujannya sayang sama kita, jadi turunnya nggak lama-lama. Dan berlanjutlah perburuan disekitar Cihampelas. Pengennya sih nemu bule, tapi karena bule-nya nggak ada dan Cihampelasnya juga nggak terlalu rame jadi kita nggak dapetin apa-apa.
Buat saya, dari hari pertama sampai hari ketiga ini, selalu aja ada hadiah plus-plusnya. Kali ini, saya baru tahu kalau dibalik megahnya bangunan mentereng Ciwalk ada satu daerah pemukiman warga dan sebuah kolam renang bangkrut yang dijadiin tempat rekreasi buat warga-warga sekitar. Katanya, kolam renang itu dulunya kolam renang Cihampelas yang suka dipakai buat olahraga anak-anak SMA, tapi karena bangkrut jadinya kolam renang itu ditutup.
Duh, kalau lihat kolam renangnya nggak banget deh. Airnya sih bersih, tapi nggak layak banget. Bayangin deh, kolam renang itu kayak satu bak gede isinya air lengkap dengan pancuran patung Neptunus yang sudah rusak, terus disampingnya ada kolam yang udah penuh lumpur dan dideketnya ada lapangan sepakbola. Jangan bayangin ada tempat ganti atau pancuran buat mandi, tembok untuk ngebatasin kolam renang dengan perkampungan warga aja nggak ada, jadi ya istilahnya 'ngegemblang' aja. Keliatan kemana-mana, apalagi kalau dilihat dari tempat parkir Ciwalk.
Herannya, anak-anak dan warga yang renang disana kayaknya asik-asik aja. Mereka berenang dan keramasan disitu, terus lanjut main sepakbola. Ibaratnya kayak gelanggang olahraga gratisan.
Ya, jaman sekarang emang susah nyari yang gratisan. Fasilitas kolam renang sih ada, tapi semuanya harus pake duit dan harga yang harus dibayar mungkin nggak sesuai dengan dompet mereka. Makanya, keberadaan kolam renang itu sangat dimanfaatkan sebagai ajang pengalihan tempat rekreasi, apalagi untuk anak-anak yang orang tuanya tidak memiliki kesempatan mengajak mereka ke kolam renang berduit. Nggak peduli rasa malu atau kebersihan dari lingkungan kolam renang itu, apalagi ketimpangan bangunan antara kolam renang dengan Ciwalk. Yang ada dipikiran mereka hanya kesenangan, kesenangan dan kesenangan. Ironis.
Pagi harinya, sebelum ketemu sama partner saya ditempat yang sudah dijanjikan, saya sengaja jalan-jalan dulu disekitar Taman Pramuka dan Riau. Mungkin karena lagi beruntung, selain hunting gambar, saya juga dapet 7-orang-baik-hati yang rela saya tanya-tanya. Untungnya lagi, mereka ramah-ramah dan cooperatif. Padahal nggak dapet reward apa-apa selain senyum manis dari saya. Hehe...
Sebenarnya, mood semalam rada-rada kurang baik. Tapi untungnya (lagi-dan-lagi), karena saking kesenengan dapetin 7 testimoni kurang dari setengah jam itulah yang membuat mood membaik.
Setelah mengambil sudut-sudut Jl.Riau yang gudangnya FO, kita berlanjut ke daerah sekitar Dago buat ngambil gambar-gambar Bandung dari tempat tinggi. Sepulang dari sana, iseng-iseng kita berhenti di satu Galeri Seni yang baru buka disekitar Dago, karena menurut partner saya, kayaknya si empunya galeri bisa diajak kerjasama. Awalnya saya ragu, tapi setelah ngobrol-ngobrol, si mas-pemiliki-galeri-yang-ternyata-masih-mahasiswa ini, baik dan ramah banget. Sampai kita tukeran nomor telepon dan FB. Sekali dayung dua tiga pulai terlampaui, testimoni buat dokumenter dapet, kenalan juga dapet. Ya lumayan juga dapet kenalan pengusaha muda, yang mungkin suatu saat nanti bisa diajak kerjasama lagi. Hehe..
Perburuan pun berlanjut ke Taman Ganesa. Mulai dari mahasiswa ITB, ibu dan anaknya, pegawai Salman ITB, anak SMA sampai pengamen kita dapetin dari sana. Selain testimoni, kita juga dapet surprise dari pengamen yang ada disana. Double COMBO !!!
Setelah jumatan dan makan siang, niatnya pengen lanjut hunting ke Cihampelas dan Pasupati, tapi karena hujan, alhasil terdamparlah kita di Ciwalk. Untungnya karena hujannya sayang sama kita, jadi turunnya nggak lama-lama. Dan berlanjutlah perburuan disekitar Cihampelas. Pengennya sih nemu bule, tapi karena bule-nya nggak ada dan Cihampelasnya juga nggak terlalu rame jadi kita nggak dapetin apa-apa.
Buat saya, dari hari pertama sampai hari ketiga ini, selalu aja ada hadiah plus-plusnya. Kali ini, saya baru tahu kalau dibalik megahnya bangunan mentereng Ciwalk ada satu daerah pemukiman warga dan sebuah kolam renang bangkrut yang dijadiin tempat rekreasi buat warga-warga sekitar. Katanya, kolam renang itu dulunya kolam renang Cihampelas yang suka dipakai buat olahraga anak-anak SMA, tapi karena bangkrut jadinya kolam renang itu ditutup.
Duh, kalau lihat kolam renangnya nggak banget deh. Airnya sih bersih, tapi nggak layak banget. Bayangin deh, kolam renang itu kayak satu bak gede isinya air lengkap dengan pancuran patung Neptunus yang sudah rusak, terus disampingnya ada kolam yang udah penuh lumpur dan dideketnya ada lapangan sepakbola. Jangan bayangin ada tempat ganti atau pancuran buat mandi, tembok untuk ngebatasin kolam renang dengan perkampungan warga aja nggak ada, jadi ya istilahnya 'ngegemblang' aja. Keliatan kemana-mana, apalagi kalau dilihat dari tempat parkir Ciwalk.
Herannya, anak-anak dan warga yang renang disana kayaknya asik-asik aja. Mereka berenang dan keramasan disitu, terus lanjut main sepakbola. Ibaratnya kayak gelanggang olahraga gratisan.
Ya, jaman sekarang emang susah nyari yang gratisan. Fasilitas kolam renang sih ada, tapi semuanya harus pake duit dan harga yang harus dibayar mungkin nggak sesuai dengan dompet mereka. Makanya, keberadaan kolam renang itu sangat dimanfaatkan sebagai ajang pengalihan tempat rekreasi, apalagi untuk anak-anak yang orang tuanya tidak memiliki kesempatan mengajak mereka ke kolam renang berduit. Nggak peduli rasa malu atau kebersihan dari lingkungan kolam renang itu, apalagi ketimpangan bangunan antara kolam renang dengan Ciwalk. Yang ada dipikiran mereka hanya kesenangan, kesenangan dan kesenangan. Ironis.
Wednesday, June 2, 2010
Di Balik Frame Kamera (2)
Kurang nendang!
Itu adalah kalimat yang cocok buat menggambarkan proses pembuatan film dokumenter dihari kedua ini. Pasalnya kita baru mulai bergerak sekitar jam3 sore karena lama menunggu sang dosen yang mau ngetes UAS dikampus.
Dihari kedua ini, kita cuma berhasil ngumpulin 18 orang, jauh banget jumlahnya dengan yang sebelumnya. Yah mungkin karena masalah waktu sih.
Soal pengalaman atau cerita yang didapat, tentu saja tetap menjadi hadiah plus-plus dari proses pembuatan dokumenter ini. Dari 18 orang yang kita mintai partisipasinya, diantaranya ada seorang bapak yang berprofesi sebagai pemulung, ibu-ibu rumah tangga yang berolahraga di Lapangan Gasibu juga para wisatawan domestik yang asyik poto-poto atau sekedar duduk-duduk mandangin Gedung Sate. Hadiah plus-plus lainnya, hari ini saya sedikit merubah persepsi saya terhadap orang-orang berseragam yang sebelumnya dinilai kurang bersahabat dan sedikit angkuh, karena kali ini, saya dan teman saya berhasil melakukan pedekate sama orang-orang berseragam didaerah Gedung Sate dan mereka mau memberikan pendapat untuk proyek dokumenter ini. Hahaa...
Mood saya dihari kedua ini, memang kurang menggebu-gebu jika dibandingkan dengan hari sebelumnya. Mungkin karena sudah terlalu sore, atau karena hilangnya minat gara-gara menunggu lama sang dosen tercinta.
Saya dan teman saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk duduk-duduk dan mengamati orang-orang disekitar Lapangan Gasibu. Ini merupakan pengalaman baru bagi saya. Karena dalam dua hari ini saya jadi manusia-penikmat-suasana-kota, setelah hari sebelumnya saya menikmati dan duduk santai ditaman Masjid Gunung Agung. Baru kali ini saya ngerasain apa yang dirasain salah satu teman saya yang hobi jalan-jalan ke taman kota bareng pacarnya. Ternyata, emang asik banget. Bikin suasana adem ngeliatin pemandangan langit sore atau orang-orang yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
Ahh ternyata selama 20tahun ini, saya baru menyadari bahwa duduk menikmati pemadangan taman kota ternyata lebih seru dibandingkan dengan jalan-jalan atau main ke mall.
Ciamik!
Itu adalah kalimat yang cocok buat menggambarkan proses pembuatan film dokumenter dihari kedua ini. Pasalnya kita baru mulai bergerak sekitar jam3 sore karena lama menunggu sang dosen yang mau ngetes UAS dikampus.
Dihari kedua ini, kita cuma berhasil ngumpulin 18 orang, jauh banget jumlahnya dengan yang sebelumnya. Yah mungkin karena masalah waktu sih.
Soal pengalaman atau cerita yang didapat, tentu saja tetap menjadi hadiah plus-plus dari proses pembuatan dokumenter ini. Dari 18 orang yang kita mintai partisipasinya, diantaranya ada seorang bapak yang berprofesi sebagai pemulung, ibu-ibu rumah tangga yang berolahraga di Lapangan Gasibu juga para wisatawan domestik yang asyik poto-poto atau sekedar duduk-duduk mandangin Gedung Sate. Hadiah plus-plus lainnya, hari ini saya sedikit merubah persepsi saya terhadap orang-orang berseragam yang sebelumnya dinilai kurang bersahabat dan sedikit angkuh, karena kali ini, saya dan teman saya berhasil melakukan pedekate sama orang-orang berseragam didaerah Gedung Sate dan mereka mau memberikan pendapat untuk proyek dokumenter ini. Hahaa...
Mood saya dihari kedua ini, memang kurang menggebu-gebu jika dibandingkan dengan hari sebelumnya. Mungkin karena sudah terlalu sore, atau karena hilangnya minat gara-gara menunggu lama sang dosen tercinta.
Saya dan teman saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk duduk-duduk dan mengamati orang-orang disekitar Lapangan Gasibu. Ini merupakan pengalaman baru bagi saya. Karena dalam dua hari ini saya jadi manusia-penikmat-suasana-kota, setelah hari sebelumnya saya menikmati dan duduk santai ditaman Masjid Gunung Agung. Baru kali ini saya ngerasain apa yang dirasain salah satu teman saya yang hobi jalan-jalan ke taman kota bareng pacarnya. Ternyata, emang asik banget. Bikin suasana adem ngeliatin pemandangan langit sore atau orang-orang yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
Ahh ternyata selama 20tahun ini, saya baru menyadari bahwa duduk menikmati pemadangan taman kota ternyata lebih seru dibandingkan dengan jalan-jalan atau main ke mall.
Ciamik!
Subscribe to:
Posts (Atom)



















