Showing posts with label Venus and Eross. Show all posts
Showing posts with label Venus and Eross. Show all posts

Friday, August 3, 2012

Duh, Kena Candu!

Ini soal candu. Sama buku -novel khususnya-. Dan candu itu ngga pernah separah ini sebelumnya! Saya nggak pernah sebegitu gila-gilaannya keluar masuk toko buku, kontak redaksi sana-sini, ngumpulin uang, tanya temen-tanya sodara, demi ngedapetin sebuah-novel-terbitan-tahun-lalu-yang-lagi-didemenin-tapi-nggak-juga-dapet-karena-ternyata-jumlahnya-terbatas!

Ahhh, candu bikin ganggu, tapi seru!

Kalau flashback ke belakang, dari zaman SD saya sudah senang baca. Dulu sih bacaannya masih sebatas Majalah Bobo atau Komik Donald Duck dan Paman Gober. Naik remaja (SMP), mulai rada beger baca-bacain majalah Gadis atau Kawanku. Disaat yang sama juga mulai suka sama novel.

Novel pertama sekaligus satu-satunya novel yang dibeli waktu SMP itu novelnya Upi Avianto, Lovely Luna. Dan sekarang entah dimana keberadaan bangke novel itu. Mungkin nyempil diantara buku-buku SMP atau udah kadung dikilo sama Papa.

Candu sama novel berlanjut lagi pas SMA. Saat itu masih belum berani beli sendiri. Kalau pun beli, dari uang extra yang dikasih Mama, Papa atau Nenek. Selebihnya sih minjem di taman bacaan deket sekolah.

Dulu, paling sering baca novel teenlit. Sesekali juga pernah baca novelnya Fira Basuki atau Mira W. Tuir banget ya anak SMA bacaannya Mira W. hahaaa :p

Baru setelah masuk kuliah, si candu mulai beraksi. Tepatnya sejak dua tahun lalu. Setelah merasa punya kelebihan uang diluar uang saku yang dikasih ortu, mulai berani deh beli novel. Alhamdulillah, sampai sekarang ada lebih dari 50 little monsters yang saya beli dengan uang sendiri. Hopefully, it'll be grow more and more :)

Dan candu itu semakin permanen, setelah mengerucutkan diri menyukai novel-novelnya @ratihkumala @BilanganFu, @clara_ng, dan yang terbaru adalah Maradilla Syachridar. Mereka berempat punya ciri khas yang beda, yeah they must be like that haha. @ratihkumala jago sama tema-tema budaya yang diangkat dalam setiap novelnya. Kalau @clara_ng pasti ngga pernah absen menuhin novelnya sama unsur yang nyikologi. Beda halnya sama @BilanganFu, selalu seimbang dengan spiritualitas ketuhanan dan seksualitas. Tentu saja dibarengi sama gaya bahasa yang simple tapi ngena. Asik.

Nah kalau Maradilla Syahridar? Karya doi inilah yang lagi ngebet banget dicari. At least, sedikit-sedikit pernah ngintip penggalan tulisannya lewat monolog seorang teman.

Bikin penasaran sih, makanya dicari.

Sunday, April 22, 2012

One Day


Dexter: Oh, come on, Em! Look, I apologize! Please!
Emma: I love you, Dexter, so much. I just don't like you anymore. I'm sorry.

Just recognized, i spent my self to read the novel with tears. Then, when i watched the movie, i started to crying again. Goddamnit !

Thursday, April 5, 2012

Alice, Si Anak Manis

Namanya Alice. Alice Si Anak Manis, begitu aku memanggilnya. Tapi teman-temannya lebih suka memanggilnya Alice Si Anak Autis. Rrrghh. Ingin sekali rasanya menjambak kuncir kuda Si Anak Gendut yang memanggil Alice dengan sebutan itu. Atau menampar pipi Si Gigi Keropos yang sering mengejek Alice dengan mulutnya yang penuh coklat. Tapi Alice hanya diam. Ia tidak melawan saat mereka mencemoohnya seperti itu.

Alice Si Anak Manis. Ketika usianya 1 tahun, seorang wanita yang Ia sebut 'Mama' membawanya ke Psikiater. Psikiater menyebut Alice sebagai anak autis. Alice Si Anak Manis, yang memiliki ketidakmampuan interaksi sosial dan gangguan komunikasi. Sepertinya, Psikiater itu bohong. Buktinya Alice sama sekali tidak mengalami kesulitan berinteraksi maupun berkomunikasi denganku.

Mulai saat itu, Alice jadi sering bertemu dengan Psikiater. Melakukan aktivitas yang mereka sebut terapi biologis (dengan obat), terapi bicara atau terapi perilaku. Katanya, sebagai terapi pengobatan. Kadang ditengah aktivitas terapi, Alice bisa mengamuk tak terkendali. Aku dengar dari Mamanya bahwa hal itu disebut dengan temper tantrum. Kalau sudah begitu, Mamanya langsung memeluk dan menenangkan Alice.

Tapi jika Alice bermain bersamaku, ia menjelma menjadi anak manis. Hobinya menumpuk benda-benda. Apapun ia tumpuk. Kubus-kubus mainan, buku, atau kaleng minuman. Ia melakukannya puluhan kali dalam satu hari. Ia pun kerap terpaku dengan hal-hal disekitarnya, misalnya air yang bergerak di kolam ikan belakang rumahnya. Aku sangat suka melihat Alice memperhatikan air. Wajahnya polos. Manis.

Alice Si Anak Manis. Ia sangat istimewa. Sayang, teman-teman yang mengejeknya itu tidak bisa melihat sisi istimewa dari dalam diri Alice. Aku bahagia hidup bersama Alice. Aku menyayangi Alice. Alice pun menyayangi aku, Tomi, si teman imajinasi dalam dunia Alice.

***
SELAMAT HARI AUTISME SEDUNIA, 2 APRIL 2012.
MARI BIASAKAN DIRI KITA UNTUK LEBIH MENGHARGAI MEREKA DENGAN MENGHENTIKAN PENGGUNAAN KATA 'AUTIS' SEBAGAI BAHAN CANDAAN.
***

Wednesday, January 25, 2012

My Gosling


He's smart, charming, and funny enough! He's Noah, Dean Pereira, Driver, Stephen Meyers and My Sexy Gosling of course :)

Sunday, December 4, 2011

Smaradhana

"Smaradhana adalah sebuah legenda mengenai kedahagaan dua hati di dunia yang fana. Ketika Batara Kama dan Batari Ratih harus menjalani keterpisahan yang membelenggu mereka. Kama hidup tanpa wujud dalam hati laki-laki, sementara Ratih dalam hati perempuan. Rasa hati di dalam setiap manusia hadir dari peran mereka. Mereka yang selalu terpisah dan selalu ingin untuk bersatu, walau kesempatan itu tidak mudah. Terjal dan Berbatu."

Paragraf diatas merupakan sebuah kutipan cerita tentang legenda Smaradhana. Kemunculannya diiringi rasa penasaran setelah mendengar berulang-ulang kata Smaradhana dalam lagu Smaradhana-nya Chrisye (ciptaan Guruh Soekarno Putra) dan lagu Juwita yang dicover oleh Aditya. Semoga lain hari, bisa mengintip legenda Smaradhana lebih dalam lagi, untuk berkesempatan menyapa Kamajaya dan Kamaratih :)

Monday, November 28, 2011

Ruang Imajiner yang Ku Ceritakan pada Bing

"Bing, bolehkah aku bercerita tentang sesuatu? Tentang sebuah tempat yang ku beri nama Ruang Imajiner, tempat bermainku yang baru."

"Tempat apa itu? Saya boleh tahu?"

"Sebuah tempat dimana aku bisa menikmati apa yang tidak bisa ku nikmati secara nyata. Sebuah tempat yang tidak nyata namun kuanggap nyata. Sebuah tempat dimana aku menikmati dia sebagai suatu imagologi.

Ketika orang-orang berkata bahwa imagologi itu tidak terlepas dari teknologi dan hadir dalam bentuk televisi maupun media massa, nyatanya aku menemukan esensi imagologi dalam dirinya."

"Memangnya siapa yang kau maksud dengan 'dirinya'?"

"Dia.. Ya dia yang hadir dalam bentuk imagologi, yang membawa aku ke dalam imaji tentang realitas yang pada titik tertentu dianggap sebagai realitas itu sendiri."

"Maksudnya?"

"Aku sedang menikmati dunia ketidak-nyataan yang kuanggap nyata, Bing. Bahkan terkadang, aku pun sulit membedakan mana dunia tidak nyata yang dianggap nyata atau dunia nyata yang banyak ketidak-nyataan.

"Bagaimana bisa kamu menemukan dia dalam ketidak-nyataan yang kamu sebutkan tadi?"

"Aku menemukannya dalam kontemplasi cinta pada Sang Maha Cinta. Dari serpihan-serpihan doa yang baru Tuhan wujudkan dalam dunia paralel."

"Dunia paralel? Tempat apa lagi itu?!"

"Dunia paralel tercipta saat suatu peristiwa terjadi, dimana ia merupakan lawan dari peristiwa itu. Dunia paralel itu seperti dunia yang sedang kita alami ini, it's similar but not exactly the same. Itu kata orang-orang yang menamakan dirinya sebagai Ahli Fisika Kuantum.

Ketika didunia nyata, dia hanyalah sebuah imagologi. Aku yakin, di dunia paralel sana dia tercipta sebagai sesuatu yang nyata."

"Ah, ceritamu sulit dimengerti. Ruang imajiner, imagologi, dunia paralel... semua itu khayalan!"

"Aku tak butuh pengertianmu, Bing. Cukup gunakan intuisimu untuk merasakan ceritaku. Betapa sulitnya aku membawa diriku kembali kedalam realitas nyata. Terlepas dari perangkap imagologi tentang dia.

Lama-lama, aku juga kesal dengan tahap formal operational-nya Piaget yang membawaku pada satu fase dimana aku mampu berpikir abstrak tentang sesuatu hal tanpa mengalaminya secara konkrit. Dimana aku melihat dia yang nyata tapi hanya mampu menikmatinya dalam ketidak-nyataan, dalam bentuk imagologi di sudut ruang imajiner.

Tapi, dari sana aku bersyukur, setidaknya dengan tahap ini aku masih memiliki kesempatan untuk menikmati dia walaupun dalam ketidak-nyataan."

"Ah, kau ini aneh..."

"Biarlah orang-orang menganggapku aneh atau bodoh, Bing. Toh aku pun memang sedang asyik menikmati kebodohan ini.

Terimakasih sudah mendengarkan ceritaku, Bing. Ruang imajiner ini terbuka, untuk siapapun yang menikmati ketidak-nyataan dalam dunia nyata."

Wednesday, November 9, 2011

Empat Hal Saja

Pertama, anda seorang Jawa. Saya mengenalnya dari kata Jawa yang melekat pada nama Anda. Seperti saya mengenal kata 'ningtyas' pada nama saya.

Kedua, saya menyukai lelaki Jawa. Karena lelaki Jawa itu tegas dan apa adanya (setidaknya itu yang saya pikirkan), seperti saya menyukai lelaki Jawa lainnya, Eross Chandra dan Satriyo Yudi Wahono atau Piyu.

Ketiga, saya mengagumi tulisan tangan anda. Sederhana namun sarat makna, yang secara diam-diam pernah saya baca.

Malangnya, hal keempat adalah Tuhan belum mengijinkan kita untuk berjumpa. Rasanya seperti ingin tapi tidak ingin. Ah biarlah. Toh, saat ini saya betah dengan aktivitas yang saya beri nama: 'diam-diam menikmatimu lewat tulisan'

Monday, September 26, 2011

Flashback

Satu pesan singkat itu, memaksa cerebrum untuk menengok ke belakang, pada suatu siang hari yang terik di lapangan basket, sekitar 8 tahun yang lalu:

"Kok panas-panas malah pake jaket?"
"Biarin dong..."
"Kenapa?"
"Biar kulitnya putih."
"Aneh ihh!"
"Hahahaa..."

Di sisi lain, amygdala tidak bisa berbuat apa-apa selain berkata: rindu!


Monday, June 27, 2011

Diam

Dari 15 menit yang lalu, sejak kedatangan kita ke kedai kopi langgananmu, aku tak mendengar satu kata pun keluar dari mulutmu. Yang kau lakukan selama itu hanya diam. Kau hanya mengangguk dan tersenyum kecil saat ku ceritakan sesuatu. Kemudian kau kembali diam. Sesekali tanganmu mengaduk segelas kopi dihadapanmu yang mulai mendingin. Segaris luka di punggung tangan kananmu -bekas cakaran Mio, kucing peliharaanmu, beberapa hari yang lalu- belum hilang.

Ku pikir, setelah kau teguk kopimu, kau akan mulai bicara. Ternyata tidak. Kau masih betah dengan diammu.

Masih dengan diam, kau betulkan letak kacamata minusmu. Mulutmu masih tertutup rapat. Sepertinya kau kehilangan gairah untuk berbicara.

Ada apa? Kenapa kau diam saja?

Di kanan kiri kita; pasangan muda-mudi, pekerja kantoran dengan tentengan laptop dan laporan, para ibu rumah tangga kelebihan uang yang menjadikan kopi sebagai gaya hidup; asik bercengkrama dan tertawa. Entah apa yang mereka perbincangkan. Mungkin menceritakan si pacar yang tak pernah berkunjung di sabtu malam, perbincangan serius dalam rapat, atau sekedar obrolan ngalor-ngidul pengisi waktu luang.

Apakah kau tidak iri dengan mereka?

Sudah 30 menit kita lewati dengan diam. Kopi dalam gelasmu tinggal setengah, sedangkan milikku hanya berkurang sepertiga. Bagiku kopi ini tasteless. Hambar tanpa dilengkapi obrolan renyahmu.

Ada apa? Kenapa kau diam saja? Kau sakit? Atau kehilangan bahan obrolan?

Aneh rasanya jika dipikiranmu tidak ada sesuatu yang ingin kau ceritakan. Biasanya mulutmu tak pernah berhenti berbicara sampai aku menunduk dan cemberut sebagai tanda aku bosan. Katakan apapun yang ingin kau katakan. Aku janji akan mendengarmu dan menahan diri agar tak cepat bosan. Lihatlah, telingaku sudah siaga untuk mendengarmu.

Hey, kenapa kau masih diam saja? Apakah pikiranmu saat ini sedang menyeleksi bahan obrolan yang akan kau ceritakan?

Tak perlu sulit menyeleksi, lihatlah disekeliling kita. Ada pengunjung dan pramusaji yang bisa kita komentari. Bukankah itu yang sering kita lakukan ditengah aktivitas makan siang kita, iya kan? Atau kau ingin menceritakan hal yang lain?

Kau bisa menceritakan pekerjaan dan setumpuk tugas kantormu yang sering kau tunda-tunda, keluhan macet dipagi hari yang sering membuatmu terlambat ke tempat kerja, kucingmu Mio yang sering dijadikan penindasan Lyla, ponakanmu, kacamata emporio armani yang kau taksir dari sebulan yang lalu, atau mungkin tentang tetanggamu yang janda nan genit yang selalu membuatku cemburu.

Nyatanya, semua hal itu tak menarik. Kau sama sekali tidak berpaling dari diammu.

Apa yang membuatmu bertahan untuk diam selama 45 menit ini? Apakah kau masih akan terus diam 15 menit kedepan, untuk menggenapkan waktu diammu menjadi satu jam?

Ahh, aku sama sekali tak bisa memaknai arti diammu. 45 menit aku habiskan agar kau mau keluar dari posisi itu, tapi usahaku tak berbuah. Apakah aku harus teriak di telingamu agar kau mau berbicara? Atau aku lebih baik diam saja sepertimu? Sambil berharap semoga dimenit berikutnya kau mau bicara. Ya, sepertinya aku akan ambil pilihan kedua dan memulai untuk diam. Mungkin setidaknya dengan mengikutimu untuk diam, aku bisa mengetahui, merasakan dan memaknai arti diammu itu.

[sigh]

Tuesday, July 27, 2010

Dewi Kumaratih dan Dewa Kumajaya

Hari ini adalah hari terakhir Ratih menjalani adat 'pingitan' atau 'sengkeran' sebelum melaksanakan pernikahannya dengan Jaya, calon suami yang dulu adalah kakak kelas Ratih di SMA, yang akan dilaksanakan lusa nanti. Dari sebelum subuh, Ibu sudah membangunkan Ratih untuk melaksanakan sahur dan berpuasa untuk melengkapi adat pingitan selama 3 hari belakangan ini.

Sejak dua bulan yang lalu, Bapak dan Ibu membentuk panitia yang terdiri dari kerabat dekat untuk membantu mempersiapkan segala macam persiapan untuk pernikahannya. Mulai dari lamaran, pembicaraan dengan besan dan sesepuh untuk menentukan hari pernikahan, undangan, kebaya sampai menu makanan. Ibu tidak memperbolehkan Ratih ikut repot dalam urusan pernikahan ini, kecuali untuk fitting baju dan tandhakan atau melapor ke KUA yang harus dilakukan oleh Ratih dan Mas Jaya sendiri.

"Tenang saja, Nduk. Kamu hanya cukup melaksanakan pingitan dan tata cara pernikahan saja, jadi ndak usah bantu apa-apa. Biar yang lain yang mengerjakan." Begitu kata Ibu, setiap Ratih menawarkan diri untuk memberikan bantuan.

Seperti sekarang ini, dari dua jam yang lalu Ratih menjalani ritual luluran tubuh dengan ramu-ramuan khas yang dibantu oleh Ibu Ida, rekan Ibu di arisan sekaligus pemilik rias pengantin adat Jawa, yang sengaja didatangkan oleh Ibu kerumah karena Ratih sedang dalam masa pingitan sehingga tidak boleh keluar rumah.

"Halo kanjeng putri..." teriak Byan, sabahat Ratih, yang tiba-tiba datang dan mengagetkan Ratih yang sedang menikmati ritual luluran tersebut. "Gilaaa.. Ini kamar sudah kayak salon saja. Benar-benar kayak putri lu, Tih." Byan kaget melihat kamar tamu yang sudah disulap sedemikian rupa seperti salon oleh Ibunya Ratih. Ibu Ida hanya tersenyum kecil melihat tingkah polah Byan, sambil meminta Ratih mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk selonjoran, karena sekarang giliran jari kakinya yang akan dimanjakan oleh Ibu Ida.

"Sini.. sini.." Ratih mengajak Byan duduk disampingnya.

"Eh, kenapa sih akad nikah sama resepsi lu mesti hari Rabu? Gue kan mesti ke Surabaya, ngurusin gawean gue. Ya mudah-mudahan saja pas resepsi gue udah balik ke Jakarta." Jelas Byan.

"Yah jangan gitu dong, By. Masa pas akad nikah aku, kamu nggak ada. Terus resepsi juga terancam nggak datang." Sahut Ratih bete.

"Habisnya tanggal nikahan lu bentrok sama jadwal kerjaan gue, sih. Ya mudah-mudahan saja gue dapat pesawat pagi, biar bisa datang ke resepsi lu."

Ratih tersenyum mendengar jawaban Byan. Kalau saja ia boleh memilih kapan waktu pernikahannya, pasti Byan akan menemaninya melewati moment paling berharga dalam hidupnya. Bapak dan Ibu serta orang tua Mas Jaya beserta sesepuh yang mengerti mengenai perhitungan tanggal Jawa sudah menentukan hari baik untuk pernikahannya berdasarkan weton atau hari lahir Ratih dan Mas Jaya. Dalam masalah penanggalan, baik Bapak atau Ibu maupun orang tua Mas Jaya yang sama-sama keturunan Jawa, tidak mau asal-asalan mencari tanggal karena ini demi kebaikan masa depan pernikahan putra-putri mereka.

"Tadi gue liat didepan, nyokap lu sibuk banget, ya? Ngurusin ini lah, ngurusin itu lah. Lu juga sama, mau-maunya ngejalanin tata cara yang ribet banget, pake acara pingitan segala lagi." protes Byan sambil menikmati jenang, makanan manis dari ketan hitam. "Hebat juga lu, tiga hari nggak ketemu sama Mas Jaya-Mu. Kalau gue sih, ogah banget ngejalanin kayak ginian."

"Nikahan ala Jawa itu memang njelimet, By. Tapi itu seninya." jawab Ratih. "Dari kecil, aku memang kepengen banget nikah dengan adat Jawa. Waktu Mas Jaya ngobrol dengan Bapak perihal niatnya untuk melamar aku, Ibu jatuh hati dan langsung kepengan jadiin Mas Jaya sebagai mantunya. Apalagi pas tahu kalau Mas Jaya juga sama-sama keturunan Jawa." Ibu Ida memohon ijin ke belakang untuk mempersiapkan ramuan luluran lainnya. Ratih sejenak membenarkan kemben batik yang mulai longgar menutupi tubuhnya.

"Waktu menikahkan Mas Bara kan, ibu tidak bisa melaksanakan impiannya untuk menikahkan anaknya dengan adat Jawa. Makanya di pernikahan ini, Ibu sangat senang dan bersemangat sekali, karena impiannya sebentar lagi akan terkabulkan."

Ratih ingat, Ibu sedikit kecewa ketika Mas Bara -kakaknya- menikah. Bukan karena tidak setuju dengan Mbak Rina -istrinya-, tetapi karena pada saat itu pernikahan tidak menggunakan adat Jawa, tetapi adat Palembang sesuai dengan keinginan keluarga besar Mbak Rina. Tetapi kekecewaan Ibu kini terobati. Sebentar lagi, perayaan adat Jawa yang terbilang mewah akan diselenggarakan. Pernikahan ini sengaja dilaksanakan secara besar-besaran, karena menjadi pengalaman pertama bagi keluarga Mas Jaya. Sedangkan untuk keluarga Ratih, ini adalah pernikahan penutupan karena Ratih adalah anak bungsu.

Tidak ada lelah yang terlihat di wajah Ibu, kecuali senyuman yang mengembang dengan ringan dibibirnya. Berulang kali, Ibu mengingatkan Ratih karena besok akan diadakan Siraman dan Midodareni, malam melepas masa lajang.

Ibu begitu sibuk dengan ritual dan kegiatan berkaitan dengan tata cara pernikahan Jawa. Untungnya Ibu tidak seperti Bu'de Endang, sahabat Ibu, yang sangat berlebihan mempercayai mitos dan pantangan dalam pernikahan Jawa. Misalnya tentang tidak diperkenankannya anak pertama dan anak ketiga untuk menikah, karena akan membentuk angka 13 yang dianggap sebagai angka sial seperti kepercayaan Orang Eropa. Pernah tahun lalu, ketika menikahkan anak bungsunya, Bu'de Endang percaya bahwa Naga Dina (naga harian) ada di selatan, sehingga ketika akan menuju rumah mempelai perempuan kita tidak boleh lewat arah utara agar terhindar dari mulut sang naga yang selalu menganga. Terpaksa saya, Ibu beserta keluarga besar Bu'de Endang harus melalui arah timur dan berjalan melewati gang sempit serta pemukiman warga yang tidak bisa dilalui mobil, demi tidak melanggar pantangan pernikahan tersebut.

Besoknya, Ibu me-recheck ubarampe atau perlengkapan untuk siraman yang akan dilaksanakan sebentar lagi. Mbak Sinta, sepupu Ratih, memberikan laporan kepada Ibu bahwa dodol dawet sudah siap.

Setelah melalui prosesi siraman yang begitu sakral dan mengharukan. Dilanjutkan dengan adat menjual dawet. Ibu yang menjadi penjualnya dan Bapak yang memayungi Ibu sambil berkeliling mencari para tamu yang menjadi pembelinya dengan menukarkan kreweng atau uang pecahan genting. Dari jauh, Ratih tersenyum melihat Ibu dan Bapak. Ibu percaya bahwa ritual ini diharapkan agar nanti saat Upacara Panggih dan resepsi banyak tamu dan rezeki yang datang.

Pada malam harinya, Mas Jaya dan keluarga besar mendatangi kediaman Ratih untuk melaksanakan midodareni. Setelah tiga hari tidak bertemu Mas Jaya, Ratih begitu pangling melihat Mas Jaya yang menurutnya semakin ganteng. Begitu juga, dengan Ratih seperti widodareni atau bidadari dimata Jaya. Dalam dunia pewayangan, kecantikan dan ketampanan calon pengantin diibaratkan Dewi Kumaratih dan Dewa Kumajaya.

Selesai melaksanakan Midodareni, Ratih segera menuju kamarnya untuk mengistirahatkan badannya agar tampil fresh esok hari. Tahap demi tahap tata cara adat Jawa telah Ratih laksanakan, tinggal menunggu tahap puncak esok harinya, yaitu akad nikah dan Upacara Panggih yang terdiri dari berbagai ritual lainnya, seperti liron kembang mayang atau menukar kembang mayang, gantal atau melempar sirih, ngidak endhog atau menginjak telur sebagai simbol seksual pecahnya pamor kedua mempelai dan simbol tanggung jawab seorang suami serta kesetiaan seorang istri, sindur atau berjalan menuju pelaminan sambil diiringi alunan gending, dulangan atau saling menyuapi sampai sungkeman.

Ibu mengetuk pintu kamar Ratih. Setelah dipersilahkan masuk, Ibu menghampiri Ratih yang sedang berbaring ditempat tidurnya.

"Nduk, Ibu sangat bahagia sekali." Sahut Ibu sambil duduk disebelah Ratih. Ratih menjatuhkan kepalanya dipangkuan Ibu. "Kewajiban Ibu dan Bapak sebagai orang tua hampir selesai. Jaya memiliki bibit, bebet dan bobot yang baik dimata Ibu dan Bapak." Ibu menghela napas sejenak sambil terus mengusapi rambut Ratih. "Ibu juga senang, karena impian Ibu untuk menikahkan kamu dengan adat Jawa sudah terkabulkan. Walaupun njelimet, tapi Ibu ndak capek. Karena dibalik ritual-ritual itu ada harapan-harapan yang baik untuk pernikahan kalian. Kamu bukan anak bau kencur lagi, Nduk. Saiki wis pecah pamore (sekarang sudah pecah pamornya)."

Ibu menutup pembicaraan dengan mengecup kening Ratih sambil meneteskan air mata. Begitu juga Ratih yang ikut terharu mendengar pernyataan Ibu. Ia memandangi kebaya modern berwarna putih yang menggantung dikamarnya yang akan dikenakan besok diacara akad nikah. Ia memejamkan mata sambil membayangkan betapa cantiknya ia mengenakan kebaya tersebut dan duduk bersanding dengan Mas Jaya di pelaminan nanti.

Thursday, July 15, 2010

Huh !

Sepulang kuliah, buru-buru saya menyabet Nokia 7610 yang tersimpan disamping laptop -yang tertinggal saat akan pergi kuliah tadi pagi-. 6 pesan dan 1 missed call tertera dalam layar hape tersebut. Salah satu pesan berasal dari seorang teman. Isi pesannya singkat. Hanya meminta saya untuk meneleponnya. Saya tidak langsung balas menelepon sesuai permintaannya, karena perintahnya itu sudah dari 4 jam yang lalu.

Saya menekan tulisan 'reply' dan membalas sms-nya dengan memberi alasan atas keterlambatan merespon sms-nya dan tak lupa untuk menanyakan apa maksud dia -teman saya- meminta saya meneleponnya. Lima menit kemudian, sms balasan masuk lagi ke hape saya. Menjelaskan to the point pertanyaan saya. Dia bilang, minta ditelepon setelah magrib.

Sekitar setengah 7, dia mengirim sms lagi mengingatkan saya untuk meneleponnya. Kemudian saya menekan 'calling' dan menunggu jawaban.

Of course, ada pembukaan -tidak hanya dalam pidato- dalam percakapan telepon kami. Hanya menanyakan kabar dan segala tetek bengek pembukaan yang biasa dalam telepon.

Setelah diam beberapa saat, dia membuka pembicaraan. Mula ber-bla bla bla menceritakan apa yang ingin dia ceritakan. Cukup lama dia berbicara dan cukup lama pula saya diam dan mendengarkan. Diakhir ceritanya, dia menyelipkan kalimat: 'jadi saya harus bagaimana?'

Ups. Kenapa tanya sama saya? Lha wong dia yang punya masalah, dia yang ngelakonin, kok saya yang kebagian ngasih keputusan harus bagaimana?

...

Saya jawab: 'Gampang. Tinggal lempar terus lupain. Beres, kan?'

...

But no. Jawaban itu hanya dalam fantasi Id saya. Dalam dunia nyata, sang polisi moral dan ego saya berkolaborasi berkata: 'Jangan gegabah dulu, pikirkan dengan tenang. Salah-salah ngambil keputusan nanti nyesel ke depannya.'

Shit! Kenapa kalimat itu yang keluar dari mulut saya? Itu bukan yang saya inginkan, actually.

Lho lho lho, kok kenapa sekarang saya yang jadi repot mengutuki jawaban saya barusan? Ah andai saja dia tidak mengirim sms itu. Andai saya tak membalas sms-nya. Andai saya tidak menelepon dia. Andai....

HUH !!

Tuesday, June 8, 2010

Biarkan Bintang Menari

Kau inginkanku menjadi seperti sang pangeranmu yang terciptakan dari dalam hatimu sejak dulu, yang kau impikan selamanya.

Kau inginkanku menjadi dewasa, karena dunia takkan menunggu hati yang bermimpi tentang dongeng kasih seorang putri dan cintanya.

Kini, mengertilah permintaan hatiku. Agar cinta dapat kembali disini. Mengertilah bahwa ku pun inginkan cinta kembali kini.

Jangan lupakan dirimu yang dulu. Ku takkan pernah lupa senyummu dengan semua kenangan kita dulu. Kuharap kini dapat kembali.

(dipopulerkan oleh Ariyo Wahab dan Dea Mirela)

Thursday, May 13, 2010

Un-Known

Saya : wajar sih kalo kamu cemburu sama dia, kamu kan pacarnya.
Teman : tapi nggak gitu Tyas, aku percaya sama pacar aku, tapi kalo dia, aku ga yakin. Bisa aja didepan aku, dia seolah-olah mengganggap pacar aku sebagai teman. Tapi dibelakang aku, dia malah 'nuking'.
Saya : ya kemungkinan emang bisa aja, hati orang siapa yang tahu sih..
Teman : (sigh)

Andai saja kita bisa tahu isi hati atau perasaan orang tanpa perlu bertanya atau mengira-ngira. Mungkin teman saya tak perlu ketakutan kehilangan pacarnya yang bersikap baik ke temannya yang lain, dan tentu saja teman saya tak perlu repot berprasangka negatif pada temannya itu. Andai semua pengandaian dan kemungkinan itu tidak hanya sekedar pengandaian dan kemungkinan saja.

Ya ampun...

Kenapa ya saya jadi mengharapkan sesuatu hal yang mustahil terjadi. Toh mau bagaimanapun caranya, kedalaman hati seseorang tidak akan ada yang tahu selain dirinya sendiri dan Tuhannya.

Ahh.. mungkin Tuhan memiliki rencana yang baik mengenai hal ini.

Wednesday, March 3, 2010

Lembayung Tahun Lalu

______________________________________________________________________________

Sore itu, dibawah temaram lembayung senja, tiga maret nol sembilan.
Kurasakan begitu indahnya semburat cahaya lembayung dikala hangat matahari kan bergantikan dengan dinginnya malam. Aku terpaku, menatap sinar euforia yang terlukis bergitu indah dihadapanku. Harta karun dunia yang sempat tersembunyi itu kini keluar menampakkan wajahnya walaupun perlahan gelap mulai menyelimuti.

Aku diam. Terbawa dalam alam penuh pesona. Perlahan namun pasti kurasakan setiap inci tubuhku naik menuju langit ke tujuh. Alam menyambutku dengan membukakan pintu gerbang negeri di atas awan. Hanya untukku. Meskipun aku datang tak diundang dan tanpa ucap salam.

Semakin aku terhanyut semakin aku ingin menghampiri dan mencoba menggapai keindahan dunia yang terekam indah dalam lensa mataku. Menjulurkan tangan kosongku tuk berusaha meraih indahnya. Berusaha mendekap mesra hangatnya. Atau hanya sekedar merasakan hembusan keindahannya melewatiku.

Namun kurasakan lembayung itu menjauh sedikit demi sedikit dari keberadaanku. Perlahan gelap malam mulai menutupi wajah cantik matahari senjaku. Seakan malam iri dengan kekaguman yang kupersembahkan untuk penghuni sore itu.

Aku marah. Melihat lembayung yang semakin pudar tertutup malam. Aku diam. Karena tak bisa melampiaskan asaku. Aku tertunduk. Melihat malam yang tersenyum menggantikan lembayung itu.

Tiba-tiba aku tersentak. Saat itu pula aku tersadar. Alam sadarku menciptakan sebuah tanya dibalik keindahan yang sekejap sempat kurasakan itu. Sebuah tanya yang tak ku temukan jawabnya. Sebuah tanya dibalik asa egoku. Sebuah tanya yang belum sempat kusampaikan pada lembayung senja itu. Apakah semua ini benar adanya atau hanya refleksi mimpiku ???

______________________________________________________________________________

Tulisan diatas pernah saya publikasikan di facebook kurang lebih setahun yang lalu. Bisa dibilang, termasuk kedalam jajaran tulisan favorit saya. Setiap saya membacanya, terkadang saya berpikir kenapa saya bisa menulis tulisan selebay dan mendayu-dayu seperti itu.

Benar kata orang, Kalau seseorang sedang mengalami jatuh cinta, patah hati, seneng, sedih, atau perasaan lain, terkadang lebih mudah mengungkapkan perasaan tersebut baik dalam tulisan, lagu atau apapun. Dan saya berada di option pertama ketika menuliskan tulisan tersebut.

Hmmm.. saya jadi rindu merasakan perasaan itu lagi.