Thursday, May 20, 2010

Meracau

X : Mana yang lebih penting, sahabat atau pacar?
Jika mereka sama pentingnya untuk kita, bagaimana caranya agar kita tidak sampai kehilangan keduanya, ketika kita dihadapkan pada satu kondisi dimana kita harus memilih salah satu diantaranya?


Ahh.. pertanyaan macam apa itu!
Tidak rugi kan, jika saya tak menjawabnya.


Y : Pasti sahabat, karena dia orang yang selalu mengalah saat kita sedang dilema. Karena dia yang selalu mendukung apapun yang menjadi pilihan kita. Karena dia, orang yang tidak pernah mengeluh saat kita terbuai melupakan dia. Dan karena dia, orang yang selalu ada saat kita menangis.


Ya ya.. Mengalah. Mendukung. Tak pernah mengeluh. Selalu ada.


Y : Seorang sahabat pasti akan merelakan sahabatnya untuk bahagia. Dan itu yang harus kita pilih.


.....


Y : Jika dihadapkan pada posisi seperti itu, tentu akan memilih sahabat. Karena kita tentu lebih dulu memiliki sahabat bukan pacar. Dan sahabat yang tahu tentang kita.


.....



Terkadang, karena situasi dan kondisi semuanya berubah. Ahh maaf, saya meracau. Lupakan saja!

Thursday, May 13, 2010

Un-Known

Saya : wajar sih kalo kamu cemburu sama dia, kamu kan pacarnya.
Teman : tapi nggak gitu Tyas, aku percaya sama pacar aku, tapi kalo dia, aku ga yakin. Bisa aja didepan aku, dia seolah-olah mengganggap pacar aku sebagai teman. Tapi dibelakang aku, dia malah 'nuking'.
Saya : ya kemungkinan emang bisa aja, hati orang siapa yang tahu sih..
Teman : (sigh)

Andai saja kita bisa tahu isi hati atau perasaan orang tanpa perlu bertanya atau mengira-ngira. Mungkin teman saya tak perlu ketakutan kehilangan pacarnya yang bersikap baik ke temannya yang lain, dan tentu saja teman saya tak perlu repot berprasangka negatif pada temannya itu. Andai semua pengandaian dan kemungkinan itu tidak hanya sekedar pengandaian dan kemungkinan saja.

Ya ampun...

Kenapa ya saya jadi mengharapkan sesuatu hal yang mustahil terjadi. Toh mau bagaimanapun caranya, kedalaman hati seseorang tidak akan ada yang tahu selain dirinya sendiri dan Tuhannya.

Ahh.. mungkin Tuhan memiliki rencana yang baik mengenai hal ini.

Wednesday, May 12, 2010

CHEERFUL










Dua hari belakangan ini, semangat saya sedang berada di titik puncak. Ahhhh senang sekali melewati dua hari ini dengan hati yang tenang dan penuh kebahagiaan.

Entah memang tidak ada beban, atau sebenarnya topeng diri saya menutupinya seolah-olah tidak ada beban. Tapi yang pasti secara sadar saya rasakan, tidak ada beban hati (kecuali tugas) yang menyiksa. Kalau kata salah satu lirik lagu Iwa K. sih katanya: bebas...lepas...

Oh Tuhan, betapa saya menikmati dua hari yang membahagiakan ini. Bibir saya tak pernah kering mengucap kata terimakasih.

Friday, April 23, 2010

Cerita Si Bungsu

Sore itu, saya yang mendapat giliran membersihkan rumah. Lap tipis dan sapu yang ringan terasa berat ditangan saya. Ahh saya malas bersih-bersih disore hari. Rasa-rasanya jam segitu lebih enak dipakai untuk bersantai sambil menikmati suguhan gosip di TV dengan cemilan ala kadarnya.
Hmm...

Sambil me-lap foto mama dan papa yang dipajang dimeja, saya bertanya iseng pada Mbah yang duduk tak jauh dari tempat saya.

Saya : Mbah, kata Mbah, mama sama papa mirip nggak, sih?
Mbah : ndak...
Saya : Kenapa nggak mirip? kan kata orang Jawa, katanya kalau jodoh suka mirip?
Mbah : Ya ada sih mirip sedikit.

Saya menggangguk pelan, sambil masih mengarahkan pandangan ke foto kedua orang tua saya, mencoba mengidentifikasi kemiripan keduanya.

Mbah : Tapi mama sama papa kamu bagus, soalnya sulung sama bungsu.
Saya : Emang kenapa gitu, Mbah?
Mbah : Ya kan kalau kata orang Jawa, suami istri yang sulung sama bungsu itu bagus, pas gitu....

Mbah masih tetap meneruskan penjelasannya diselingi istilah-istilah Jawa yang tidak saya mengerti. Saya hanya mengangguk dan mengiyakan penjelasannya saja. Sambil mencoba menyimpulkan bahwa pasangan suami istri antara si sulung dan si bungsu itu dinilai baik oleh kalangan para orang tua Jawa, dengan alasan dapat saling melengkapi satu sama lain.

Saya kembali melanjutkan aktivitas bersih-bersih sambil bergumam: ohhh bungsu, cepatlah datang....

Monday, April 19, 2010

Negosiasi

Aku rindu. Lama sekali kita tak bertemu. Hmm... jangankan bertemu, menyapa pun harus aku lakukan dengan usaha yang menguras tindakan dan pikiran. Mungkin bukan kamu yang tidak mau bertemu, tapi karena aku yang terlalu memaksakan diri untuk menjauh.

Hmm... memang kita terpisah jarak ya? Bukannya kamu selalu ada disaat aku sedih atau senan, kan? Berarti memang aku yang membentuk jarak diantara kita. Begitu ya?

Oh ya, terimakasih atas hadiahmu beberapa bulan yang lalu. Walaupun aku baru menikmatinya beberapa hari belakangan ini. Aku tahu, hadiah yang kamu berikan itu berkat doaku selama ini, kan?

Tapi, hadiahmu terlalu istimewa. Terlalu berat bagiku untuk menerimanya, karena mungkin aku harus lebih banyak berbalas budi atas hadiah itu.

Aku memang menginginkan hadiah darimu, tapi bukan hadiah itu. Jujur, aku telah lama menginginkan barang lamamu yang telah lama kau simpan. Masih ada, kan? Atau memang tak ada kesempatan lagi untukku memiliki barang lamamu?

Ahh.. aku terlalu keras kepala dengan mengharapkan barang lamamu yang tidak pernah bisa aku dapatkan. Mungkin kamu bingung karena aku tidak mau menerima hadiahmu dan lebih memilih barang lamamu yang sudah usang.

Jangan marah ya, karena sikapku ini. Aku yakin, kamu masih memiliki limpahan hadiah lainnya untukku. Iya kan?

Tapi untuk sekarang, bisakah aku bernegosiasi denganmu, Tuhan?