Monday, May 30, 2011

Sometimes

Sometimes you feel complete, sometimes you also feel lacked.
Sometimes you can get anything in your life easily, sometimes you also have to worked hard to get what you want.
And sometimes you dont know the reason why all this things happened...

Sunday, April 24, 2011

Padahal Cuma Urusan Perut....

Gue nggak tahu apa semua orang punya perasaan dan pikiran yang sama atau nggak dalam hal makan dan perut. Makan, buat gue lebih dari sekedar kebutuhan fisiologis gue sebagai manusia. Sebagai seorang penggila makan, tentu apapun yang gue lakukan bakal terhambat kalau gue belum makan. Dan gue nggak ngerti juga, apa ada hubungannya antara lambung dan amygdala dalam tubuh gue, yang bikin gue sering uring-uringan, bete dan marah kalau belum makan.

Dibulan April ini -bulan tersayang yang sukses bikin gue kere setengah mati- berhasil ngerubah pola makan gue jadi ancur-ancuran. Dirumah -yang lebih tepatnya gue rasain cuma sebagai tempat tidur doang- jarang ada makanan. Sekalinya ada makanan itu juga cuma nasi dan mi instan doang. Seringnya sih, sarapan sama mi instan, makan siang dikampus yang gizinya lebih mending daripada mi instan doang, terus kalau inget makan malam ya makan dan malah seringnya sih makan angin gara-gara keseringan pulang malam dan udah keburu tepar duluan.

Gue termasuk orang yang pemilih dalam hal makan memakan. Milih-milih disini bukan berarti saat gue disodorin makan sama ikan asin gue minta ganti jadi ayam goreng, maksudnya gue kadang suka nggak begitu nafsu kalau makan pagi dan makan malam dengan menu yang sama. Mending kalau menunya goreng-gorengan, kalau sayur atau tumis-tumisan kan kadang suka udah nggak seger.

Urusan makan dan perut ini bener-bener bikin gue stres! Lebih stres daripada ngurusin tugas kuliah atau kerjaan. Malah gue nggak habis pikir sama orang-orang yang bisa nahan buat nggak makan, dan kalau gue ada diposisi itu dengan sangat yakin dan pasti gue nggak bakalan bisa. Dan stres gue makin lengkap saat gue dapet warning dari bokap gara-gara nyokap ngadu setelah ketemu dan ngeliat gue jadi kurusan. Padahal nyokap gue aja yang lebaynya nggak ketulungan, wong berat badan gue tetep kok. Hadeeuuuhhhhh, perut ohh perut....

Penghuni Di Balik Layar

Kadang gue suke mikir sambil mempermalukan diri gue sendiri, kenapa Tuhan terus aja ngasih apa yang gue mau tanpa gue ngasih 'payment' terlebih dahulu sebagai dana awal atas permintaan gue itu. Kayak sekarang, Tuhan menghadapkan gue pada dua pekerjaan yang beda banget, yang satu menuntut gue untuk kerja didepan layar dan satunya lagi kerja di balik layar.

Setelah dirasa-rasain, dari dua pekerjaan yang beda jenis itu, gue suka dua-duanya. Tapi kalau boleh milih gue lebih nyaman ada di balik layar daripada didepan layar. Gue bisa jadi diri gue sendiri, maksudnya bukan gue jadi munafik saat gue ada didepan layar tapi gue ngerasa bebas aja tanpa harus mikir nggak pede saat gue pake make-up, pake high heels yang ketinggian atau pake dress yang seksoy geboy. Walaupun dalam waktu-waktu tertentu, need of exhibition gue kadang suka melonjak diatas rata-rata orang kebanyakan. Tapi setidaknya kalau kerja di balik layar, gue bisa dapet bonus kenikmatan menikmati nyamannya sendal jepit, hehe :p

Kadang gue juga suka sok-sok perfeksionis, yang bikin gue pusing sendiri kalau lagi gawe didepan layar. Gue malah jadi suka mikir double antara perform yang mesti gue bawain sama tetek-bengeknya persiapan dari perform itu sendiri. Dan jujur, karena gue orang-yang-nggak-mau-diatur-tapi-suka-ngatur, posisi dibalik layar lebih pas buat gue jadi gue bisa ngatur-ngatur orang yang mau gue atur, misalnya ngatur jadwal atau ngatur-ngatur yang lainnya. Karena kalau didepan layar, kadang aturannya itu nggak sesuai sama aturan dalam diri gue *egois yaa? hhe*

Ya apapun itu alasannya, dari dua posisi diatas minimal gue jadi lebih memahami gimana seharusnya gue menempatkan diri gue secara baik dan bermanfaat sebagai penghuni didepan layar atau dibalik layar. let's work! yeahhhh...

Saturday, March 19, 2011

Dear Juliet,

Dear Juliet,
If i have much money or there is someone who kindly took me to Verona, i probably wouldn't typing many words through this blog. If you're just a fairy tale, i still to believe that you're exist, because every woman from all over the world -so do i- expect your reply letter and solutions for their fucking problems with husband, boyfriend, mistress, boss, friends, or their partners.

Dear Juliet,
He just called me. He used the private number, because i usually rejected his phone or sms. He asked me about my decision to leave him. He was angry and told me that i were hurt him (ohh its too much huh?)

I just said, i can't tell the reason clearly from the phone. Maybe i already hate him, so i wish we didn't relate anymore. But he refused. He didn't accept my reasons. I dont know, Juliet. If i still survive to be friends with him, i wont be free, cause his fucking girlfriend or these damn feelings. So i choose this decision, even he didn't want to. I know, he already hate me too. but this is the best way, for me and -i hope- for him too.

Am i choose the right decision, huh?
I hope you will answer: yes you are.

Thanks Juliet...

Hikmah dari Freud (baca:Froid)

Di titik jenuh dalam pencapaian diri, ada satu hal yang akhirnya menyadarkan saya tentang kesombongan dari sebuah ilmu yang didapat. Ketika itu dengan entengnya saya tertawa saat seorang teman salah menyebutkan kata 'Freud' (dia menyebutnya 'freud', sesuai dengan rangkaian huruf yang sebenarnya). Lalu masih dengan tertawa, saya meralat sebutannya itu dengan mengatakan:

"Nyebutnya Froid, bukan Freud."

Dia hanya tersenyum dan mengulangi kata 'Freud' dengan lafal yang sudah dibenarkan.

Kemudian mulutnya meluncurkan satu nama tokoh psikologi lainnya, Jung. Kali ini pelafalannya benar. Ia menyatakan ketertarikannya terhadap tokoh itu dengan antusias. Ia banyak bertanya tentang Jung, tapi tak ada satupun yang saya ketahui. Ahh malu rasanya, ditanyakan tentang sesuatu hal yang dekat dengan saya tapi saya sendiri tak banyak mengetahuinya dibandingkan dia. Lebih malu lagi, ketika sadar bahwa beberapa menit sebelumnya saya mungkin boleh sombon karena lebih unggul dalam pelafalan kata 'Freud', tapi untuk masalah Jung nilai saya NOL besar. Pemahaman saya tentang Jung sangat jauh dibandingkan dengan yang dia ketahui.

Saya mere-call informasi dalam otak tentang tokoh-tokoh psikologi.

Rogers? ahh namanya masih hangat dalam pikiran saya, sering disebut-sebut di kelas Konseling dan Psikoterapi, pokoknya yang menggagas person-centered therapy deh. Maslow? hirarki kebutuhan. Sullivan? yang saya inget cuma teori nipple-nya. Adler? yang urutan kelahiran itu lho. Horney? tentang hostility gitu deh. Skinner, Bandura, Pavlop? behavioristik pastinya. Lewin? fenomenal field. Erikson? yang tahap perkembangan sosial. Terus kalau Erick Fromm? Mmm.. yang ego ideal kan? Allport? Anna Freud?

Oh Tuhan, nyatanya, saya hanya berkomitmen saja kuliah di psikologi, tahu tentang tokoh-tokoh psikologi tapi tidak benar-benar mengenal mereka. Saya belum engage dengan ke-psikologi-an itu sendiri, tapi sudah puas dan sombong dalam diri. Ya Rabb, lindungi hamba-Mu ini dari kesombongan atas ilmu yang didapat. (sigh)