Pagi itu, dapur rumah tiba-tiba ramai. Ibu, dengan keahlian multitasking-nya, menyiapkan sarapan sambil mulutnya asik gosip-ing dengan tante saya. Saya yang masih setengah sadar dari tidur, belum ngeh dengan apa yang mereka gosipkan.
Lama-kelamaan, saya mulai bisa menangkap tema pembicaraan mereka: cinta antara majikan dan supir pribadi. Uhh FTV banget! Tapi ternyata banyak contoh kasus nyata yang mereka ceritakan, dari majikan yang mencintai supir yg masih beristri, ustadzah yang menikahi supirnya karena selalu setia menemani saat beliau ceramah atau cici chinese yang lebih memilih menceraikan suaminya yg sukses dan menikah dengan supirnya.
"Ya itulah yang namanya witing tresno jalaran soko kulino..." ucap ibu.
"Yoi mom," jawab saya menyetujui, sambil mencomot tempe goreng yg masih hangat.
Eh bentar!
Dengan cerita gosip tadi, saya tiba-tiba teringat teman saya, yang sering kita -saya dan teman yang lain- cengin dengan kalimat: cinta Enon dan supirnya. Hati-hati ah Enon, hehee... :p
Thursday, June 2, 2011
Tuesday, May 31, 2011
(proposal) SKRIPSI or SKIP-SIHHH ?
Puncak dari segala puncak tugas mahasiswa itu skripsi dan untuk depe-nya dibayar pakai proposal skripsi. Ketika tiga hal utama dari proposal skripsi -judul, studi pendahuluan dan metlit- sudah ditangan, stressor yang berkaitan dengan 3 hal itu pun masih sibuk menggoda dan membuat fluktuasi semangat saya jadi naik turun. Dan lucunya, ternyata nggak cuma saya yang kelimpungan sama hal-hal yang berkaitan dengan 'teman baru' ini, teman-teman seperjuangan pun banyak yang berkicau memuja-muji si doi di twitter atau facebooknya.
Senang sih, denger kakak tingkat yang muji-muji judul kita seangkatan yang dinilai lebih variatif dan baru. Tapi selain pujian, mereka juga suka nyelipin kalimat pamungkasnya: "Udah lah, judulnya jangan yang ribet-ribet, yang standar S1 aja.." Dan gosipnya, menurut para pendahulu saya, se-idealis apapun judul kita tetap aja nantinya kita di'paksa' menurunkan harga idealisme itu. Jleb. Mereka juga bilang: "Hati-hati milih dosen pembimbing..." Yeahh, sekarang sih hanya bisa mengandalkan keberuntungan, wong tahun ini dosen pembimbing bukan kita yang milih tapi ditentuin dewan skripsi.
Hell-yeah, lupakan semua stressor itu!
Entah ini suatu insight atau malah semakin memperparah kecemasan, seorang dosen yang saja ajak diskusi kemarin sore mengatakan kalau judul saya justru lebih ke arah sosial, padahal saya -yang mengambil konsentrasi PIO- berniat mem-blend-kan antara tema industri dan sosial, tapi ternyata malah sosialnya yang menjadi dominan. Sebenarnya beliau tidak mempermasalahkan hal ini dan sah-sah saja kalau saya tetap ingin mengambil judul ini, tapi apa kabar nasib saya nanti pas sidang proposal yang justru para pengujinya itu dari dosen PIO semua, heuuu...
Tidak cukup dengan judul yang hampir overlapping antara PIO dan sosial, dosen pembimbing saya mengusulkan fenomenologis sebagai pendekatan metlit proposal saya. Jeng jeng jeng! Kalau ditelaah lagi, judul ini memang lebih pas jika disandingkan dengan pendekatan fenom, tapi saya sendiri masih ragu dengan kemampuan saya. Tentu saja stressor pun mengekor, ada yang bilang fenom beginilah, begitulah. Heuuuuu...
I remember what existentialism said that anxiety is a condition of living, so i'll try to face and make it as a challenge to grow. And now, i need someone to talk to, before i met my beloved philosophy lecturer, Mr.D...
Anyone please...? T.T
Monday, May 30, 2011
Sometimes
Sometimes you feel complete, sometimes you also feel lacked.
Sometimes you can get anything in your life easily, sometimes you also have to worked hard to get what you want.
And sometimes you dont know the reason why all this things happened...
Sunday, April 24, 2011
Padahal Cuma Urusan Perut....
Gue nggak tahu apa semua orang punya perasaan dan pikiran yang sama atau nggak dalam hal makan dan perut. Makan, buat gue lebih dari sekedar kebutuhan fisiologis gue sebagai manusia. Sebagai seorang penggila makan, tentu apapun yang gue lakukan bakal terhambat kalau gue belum makan. Dan gue nggak ngerti juga, apa ada hubungannya antara lambung dan amygdala dalam tubuh gue, yang bikin gue sering uring-uringan, bete dan marah kalau belum makan.
Dibulan April ini -bulan tersayang yang sukses bikin gue kere setengah mati- berhasil ngerubah pola makan gue jadi ancur-ancuran. Dirumah -yang lebih tepatnya gue rasain cuma sebagai tempat tidur doang- jarang ada makanan. Sekalinya ada makanan itu juga cuma nasi dan mi instan doang. Seringnya sih, sarapan sama mi instan, makan siang dikampus yang gizinya lebih mending daripada mi instan doang, terus kalau inget makan malam ya makan dan malah seringnya sih makan angin gara-gara keseringan pulang malam dan udah keburu tepar duluan.
Gue termasuk orang yang pemilih dalam hal makan memakan. Milih-milih disini bukan berarti saat gue disodorin makan sama ikan asin gue minta ganti jadi ayam goreng, maksudnya gue kadang suka nggak begitu nafsu kalau makan pagi dan makan malam dengan menu yang sama. Mending kalau menunya goreng-gorengan, kalau sayur atau tumis-tumisan kan kadang suka udah nggak seger.
Urusan makan dan perut ini bener-bener bikin gue stres! Lebih stres daripada ngurusin tugas kuliah atau kerjaan. Malah gue nggak habis pikir sama orang-orang yang bisa nahan buat nggak makan, dan kalau gue ada diposisi itu dengan sangat yakin dan pasti gue nggak bakalan bisa. Dan stres gue makin lengkap saat gue dapet warning dari bokap gara-gara nyokap ngadu setelah ketemu dan ngeliat gue jadi kurusan. Padahal nyokap gue aja yang lebaynya nggak ketulungan, wong berat badan gue tetep kok. Hadeeuuuhhhhh, perut ohh perut....
Dibulan April ini -bulan tersayang yang sukses bikin gue kere setengah mati- berhasil ngerubah pola makan gue jadi ancur-ancuran. Dirumah -yang lebih tepatnya gue rasain cuma sebagai tempat tidur doang- jarang ada makanan. Sekalinya ada makanan itu juga cuma nasi dan mi instan doang. Seringnya sih, sarapan sama mi instan, makan siang dikampus yang gizinya lebih mending daripada mi instan doang, terus kalau inget makan malam ya makan dan malah seringnya sih makan angin gara-gara keseringan pulang malam dan udah keburu tepar duluan.
Gue termasuk orang yang pemilih dalam hal makan memakan. Milih-milih disini bukan berarti saat gue disodorin makan sama ikan asin gue minta ganti jadi ayam goreng, maksudnya gue kadang suka nggak begitu nafsu kalau makan pagi dan makan malam dengan menu yang sama. Mending kalau menunya goreng-gorengan, kalau sayur atau tumis-tumisan kan kadang suka udah nggak seger.
Urusan makan dan perut ini bener-bener bikin gue stres! Lebih stres daripada ngurusin tugas kuliah atau kerjaan. Malah gue nggak habis pikir sama orang-orang yang bisa nahan buat nggak makan, dan kalau gue ada diposisi itu dengan sangat yakin dan pasti gue nggak bakalan bisa. Dan stres gue makin lengkap saat gue dapet warning dari bokap gara-gara nyokap ngadu setelah ketemu dan ngeliat gue jadi kurusan. Padahal nyokap gue aja yang lebaynya nggak ketulungan, wong berat badan gue tetep kok. Hadeeuuuhhhhh, perut ohh perut....
Penghuni Di Balik Layar
Kadang gue suke mikir sambil mempermalukan diri gue sendiri, kenapa Tuhan terus aja ngasih apa yang gue mau tanpa gue ngasih 'payment' terlebih dahulu sebagai dana awal atas permintaan gue itu. Kayak sekarang, Tuhan menghadapkan gue pada dua pekerjaan yang beda banget, yang satu menuntut gue untuk kerja didepan layar dan satunya lagi kerja di balik layar.
Setelah dirasa-rasain, dari dua pekerjaan yang beda jenis itu, gue suka dua-duanya. Tapi kalau boleh milih gue lebih nyaman ada di balik layar daripada didepan layar. Gue bisa jadi diri gue sendiri, maksudnya bukan gue jadi munafik saat gue ada didepan layar tapi gue ngerasa bebas aja tanpa harus mikir nggak pede saat gue pake make-up, pake high heels yang ketinggian atau pake dress yang seksoy geboy. Walaupun dalam waktu-waktu tertentu, need of exhibition gue kadang suka melonjak diatas rata-rata orang kebanyakan. Tapi setidaknya kalau kerja di balik layar, gue bisa dapet bonus kenikmatan menikmati nyamannya sendal jepit, hehe :p
Kadang gue juga suka sok-sok perfeksionis, yang bikin gue pusing sendiri kalau lagi gawe didepan layar. Gue malah jadi suka mikir double antara perform yang mesti gue bawain sama tetek-bengeknya persiapan dari perform itu sendiri. Dan jujur, karena gue orang-yang-nggak-mau-diatur-tapi-suka-ngatur, posisi dibalik layar lebih pas buat gue jadi gue bisa ngatur-ngatur orang yang mau gue atur, misalnya ngatur jadwal atau ngatur-ngatur yang lainnya. Karena kalau didepan layar, kadang aturannya itu nggak sesuai sama aturan dalam diri gue *egois yaa? hhe*
Setelah dirasa-rasain, dari dua pekerjaan yang beda jenis itu, gue suka dua-duanya. Tapi kalau boleh milih gue lebih nyaman ada di balik layar daripada didepan layar. Gue bisa jadi diri gue sendiri, maksudnya bukan gue jadi munafik saat gue ada didepan layar tapi gue ngerasa bebas aja tanpa harus mikir nggak pede saat gue pake make-up, pake high heels yang ketinggian atau pake dress yang seksoy geboy. Walaupun dalam waktu-waktu tertentu, need of exhibition gue kadang suka melonjak diatas rata-rata orang kebanyakan. Tapi setidaknya kalau kerja di balik layar, gue bisa dapet bonus kenikmatan menikmati nyamannya sendal jepit, hehe :p
Kadang gue juga suka sok-sok perfeksionis, yang bikin gue pusing sendiri kalau lagi gawe didepan layar. Gue malah jadi suka mikir double antara perform yang mesti gue bawain sama tetek-bengeknya persiapan dari perform itu sendiri. Dan jujur, karena gue orang-yang-nggak-mau-diatur-tapi-suka-ngatur, posisi dibalik layar lebih pas buat gue jadi gue bisa ngatur-ngatur orang yang mau gue atur, misalnya ngatur jadwal atau ngatur-ngatur yang lainnya. Karena kalau didepan layar, kadang aturannya itu nggak sesuai sama aturan dalam diri gue *egois yaa? hhe*
Ya apapun itu alasannya, dari dua posisi diatas minimal gue jadi lebih memahami gimana seharusnya gue menempatkan diri gue secara baik dan bermanfaat sebagai penghuni didepan layar atau dibalik layar. let's work! yeahhhh...
Subscribe to:
Posts (Atom)